5 Pertanyaan Cobra untuk Adella Fauzi

- March 6, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto dok. pribadi Adella Fauzi

Adella Fauzi, dan saudari kembarnya Aletta sama-sama mencintai dunia balet dan tari sejak masa kanak-kanak. Hingga hari ini, Adella tak berhenti mencintai balet dan bertekad terus mengembangkan balet di Indonesia. Adella yang pernah mendalami balet pada Alvin Ailey American Dance Center (New York, AS) dan terputus akibat krisis ekonomi di Indonesia melanda, punya catatan prestasi yang panjang. Di antaranya, ia berhasil meraih gelar Associate of Royal Academy of Dance UK. Selain menciptakan tari, ia kerap menata gerak dan tari untuk sejumlah film nasional, peragaan busana, juga mengkoreografi tim senam nasional Indonesia (untuk senam lantai), dan mengajar balet baik bagi dewasa maupun anak-anak. Kenali sosoknya lebih jauh melalui 5 Pertanyaan Cobra kali ini.

1. Apa yang membuatmu bertahan menekuni balet?

Dari pertama kali nonton balet di awal tahun 80an sampai akhirnya belajar balet di tahun 1983, langsung nyangkut cinta sama balet hingga sekarang. Rasanya seperti ada yang hilang dari hidup saya kalau tidak bersinggungan dengan dunia balet. Dengan menari balet saya mendapatkan kepuasan jiwa dan raga yang hingga saat ini belum saya dapatkan dari hal lainnya. Dari kecil hingga kuliah tidak ada hal yang bisa mengganggu latihan balet. Pokoknya, balet selalu jadi nomor satu. Pernah suatu kali saya mencoba menjauh dari balet, ketika harus balik ke Indonesia dari menimba ilmu tari kontemporer di Alvin Ailey American Dance Center, New York, Amerika Serikat. Saya dan Aletta (kembaran Adella, ed.) menjadi salah satu korban krisis ekonomi yang melanda Indonesia, sehingga tidak bisa menyelesaikan pendidikan tari di Amerika. Rasanya sedih sekali patah cita-cita menjadi penari profesional di Amerika. Sekembalinya ke Jakarta, merasa ingin berhenti sementara dari balet untuk menentukan langkah apa yang akan diambil karena di Indonesia pilihan profesi di dunia balet hanya menjadi guru balet atau penari latar komersial. Selama berhenti balet rasanya seperti ada bagian dari diri yang hilang. Merasa tidak bahagia dan badannya terasa tidak optimal. Akhirnya balik ke dunia balet sebagai penari dan guru balet. Sejak itu tidak pernah lepas dari dunia balet.

Beruntung saya dan Aletta sama-sama mencintai balet. Kami saling mengkritik teknik balet dan menari kami sehingga membuat kami lebih maju. Keunikan kami sebagai anak kembar yang suka balet membuka banyak kesempatan-kesempatan menarik, seperti menjadi model iklan, TV presenter, menjadi tamu di berbagai acara radio dan TV. Hal ini kami pergunakan untuk lebih memasyarakatkan balet di Indonesia.

Dengan kemampuan menari balet, saya tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam mempelajari jenis tari lain dan olah tubuh lainnya, seperti tari kontemporer, tari jazz, yoga, pilates juga termasuk tari tradisional Indonesia. Selain itu postur tubuh saya juga lebih baik.

Saya selalu haus ilmu balet. Hingga kini, saya selalu berusaha mengikuti berbagai workshop balet dan gaya tari lainnya. Selalu berusaha menonton berbagai pertunjukan seni terutama balet baik di dalam maupun luar negri. Dengan menonton seni pertunjukan terutama balet, semacam cara saya to feed my soul. Memang saya tidak selalu menjadi guru balet, tapi saya senang membagi pengetahuan balet saya ke siapa saja yang mau mendengarkan dan membutuhkannya.

Hingga saat ini saya masih menjadi salah satu penari balet yang aktif menari balet walaupun tidak seaktif dulu. Saya tidak tahu sampai umur berapa saya akan menari, tapi yang pasti selama badan saya masih bisa menari dengan baik saya akan terus menari. Kalaupun tiba saatnya saya harus berhenti menari balet, saya yakin sekali hidup saya akan tetap di dunia balet ini. Bisa sebagai koreografer, guru balet, dan penguji ujian balet yang sudah saya jalani selama ini atau sebagai ballet activities organizer.

Perkembangan balet Indonesia sekarang ini sangat menggembirakan, banyak balet workshop dengan pengajar-pengajar yang bagus, kompetisi balet yang diadakan secara regular dengan juri yang berpengalaman, dan pertunjukan balet Internasional yang tampil di Jakarta. Jumlah sekolah balet juga banyak, walau banyak juga yang kualitasnya perlu dipertanyakan, jadi harus dicek dulu. Kualitas penari dan murid balet juga lebih baik, semakin banyak penari balet Indonesia yang sekolah tari di luar negri, bahkan bergabung di balet company di luar negeri. Banyak murid balet yang mendapatkan penghargaan di kompetisi balet tingkat Asia. Dukungan orangtua terhadap anaknya yang suka balet juga lebih baik, misalnya mendukung untuk ikut summer dance program atau menyekolahkan anaknya di sekolah tari serius dan tanding balet di luar negri. Peralatan balet pun sudah lebih mudah ditemukan di Indonesia dan banyak pilihannya, seperti sepatu balet, baju dan berbagai kelengkapan lainnya.

2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Jakarta, saya suka sama kota ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya… yah love-hate relationship lah ya. Kota dimana kita bisa nemuin segala hal dan berbuat berbagai hal tanpa kesulitan yang berarti. Berbagai kegiatan tari dan seni berpusat di Jakarta sehingga cukup mudah untuk menonton pertunjukan berkualitas. Pergaulan pertemanannya juga seru karena kita bisa bergaul dengan berbagai karakter orang dari berbagai kalangan. Walaupun masih kekurangan gedung pertunjukan yang ideal untuk balet. Panggung kebanyakan kurang sesuai dengan kebutuhan balet, seperti kelembaman lantainya, lapisan lantai yang di balet biasa dikenal sebagai lantai Marley masih kurang kualitasnya, tidak adanya Green Room atau ruang pemanasan untuk penari sebelum pertunjukan, dll.

3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Dalam membuat konsep biasanya dikerjakan di kamar pribadi, kemudian saat membuat koreografi saya lakukan di ruangan lain. Ruangannya tidak berbentuk studio tari namun cukup untuk saya mengekplorasi gerak dan koreografi yang saya inginkan. Tentunya setelah saya sudah punya gambaran seperti apa tarian yang akan dibuat, saya akan berlatih di studio balet bersama penari. Beberapa tahun belakangan ini saya lebih aktif menjadi koreografer dan penari untuk event-event yang membutuhkan penari balet. Hingga saat ini saya belum punya grup tari sendiri, saya selalu mengajak penari balet freelance dan penari balet dari sekolah balet untuk membantu kerja saya.

4. Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Ada dua hal yang menurut saya penting: (1) My body is my instrument, karena alat bagi penari dan koreografer adalah badan untuk menghasilkan tarian yang indah, (2) Teknik tari yang baik, karena menurut saya sebuah koreografi dapat maksimal terlihat baik dan bagus jika ditarikan penari dengan teknik tari yang baik.

5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang yang kamu tekuni (seni balet) saat ini?

Ada dua hal yang sering sekali saya dengar: (1) Bahwa menari balet itu mudah, bisa dipelajari dalam waktu singkat. Nope! That’s so not true. Balet harus belajar dari kecil supaya otot dan cara menarinya kuat dan terlatih. Juga harus dilatih secara terus menerus, dan selain itu juga perlu melatih rasa dari tari itu sendiri. Seorang penari yang baik dan bagus akan menarikan sebuah tarian sulit tapi terlihat mudah, disitulah challenge seorang penari yang seringkali membuat orang awam jadi perpikir menari balet itu mudah, (2) Ballet is boring, orang-orang sangat suka menyimpulkan bahwa balet itu membosankan, padahal mereka belum pernah menonton balet secara langsung. Besar kemungkinan mereka akan menyukai balet apabila sudah menonton pertunjukan balet yang bagus secara langsung. Sama halnya kalau kita nonton pertandingan olahraga, kalau yang main tidak bagus pasti bosan menontonnya.

*artikel terdahulu #5PertanyaanCobra bersama
Ika Vantiani
Irma Hidayana
Gunawan Maryanto