5 Pertanyaan Cobra untuk Gunawan Maryanto

- December 23, 2016 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto oleh Chindhil

gunawan-maryanto-in

Gunawan Maryanto yang kerap disapa Cindhil adalah aktor, penulis dan sutradara teater. Ia aktif mengelola Teater Garasi, juga setiap tahun menyelenggarakan Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) bersama Joned Suryatmoko di berbagai kota. Karya-karyanya berupa puisi, prosa, dan kritik sastra dimuat di berbagai media massa Indonesia dan beberapa telah meraih penghargaan antara lain Kathulistiwa Literary Award 2010. Kenali sosoknya lebih jauh lewat 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:

1. Kenapa harus (seni peran)/teater?

Saya tak punya 1 jawaban yang bisa memuaskan saya sendiri untuk pertanyaan ini. Dan pertanyaan ini selalu hadir dan hadir kembali. Terutama di saat-saat yang buruk. Pertama karena saya senang melihat pertunjukan sedari kecil. Senang melihat bagaimana para aktor bermain di atas panggung. Saya seperti sedang bercakap-cakap—dengan cara yang lain—dengan para aktor itu. Dan ketika kemudian saya menjadi aktor saya ingin penonton juga merasakan apa yang saya alami ketika melihat sebuah pertunjukan atau permainan keaktoran yang kuat. Hal tersebut kemudian melatari jawaban saya yang kedua: seni peran/teater sebagai medium saya bertemu dengan orang lain, mempercakapkan hal-hal, dan bertukar pengalaman dan pengetahuan. Jawaban saya yang ketiga adalah teater menjadi ruang belajar yang tak pernah berhenti bagi saya. Setiap kali menempuh sebuah proses saya seperti tengah belajar kembali, melucuti segala yang telah mengeras dalam diri saya, mencairkannya kembali, mempertanyakan ulang dan menyerap pengalaman-pengalaman yang baru dan menyegarkan.

2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Yogyakarta. Kota kecil di mana segalanya ada—seperti sebuah warung kelontong yang kadang penjualnya tidur atau entah ke mana. Tradisional dan modern sekaligus. Segalanya seperti terhubung di sini.

3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya? 

Teater Garasi. Sebuah kolektif seniman yang menjadi ruang belajar dan medan kreatif saya selama lebih dari 20 tahun ini.

4. Apa bentuk/obyek/materi dasar (dalam konteks profesi) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Tubuh, suara, pikiran dan perasaan. Tak ada yang lebih penting di antaranya. Seluruh elemen itu mesti dikuasai oleh seorang aktor. Selanjutnya adalah kemampuan si aktor dalam berinteraksi dengan lingkungan—nyata maupun rekaan.

5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari profesimu?

Berakting adalah berpura-pura. Berakting adalah menjadi aneh dan tidak biasa. Padahal sebaliknya.