5 Pertanyaan Cobra untuk IKA VANTIANI

- January 19, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Gambar dok. Ika Vantiani

AGoGoSkirt_in

Ika Vantiani, pekerja seni yang kerap menerapkan tehnik kolase pada karya-karyanya. Sepanjang 2016, Ika membuat proyek pendokumentasian kosa kata yang mendeskripsikan perempuan dalam kehidupan sehari-hari melalui media kolase. Sejak 2015, ia juga menjadi Project Coordinator “Utarakan Jakarta – People Behind the Seawall”, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan Jakarta yang perlahan tenggelam. Kenali sosok Ika Vantiani lebih jauh melalui 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:

1. Kenapa (tertarik/menekuni) seni kolase?

Sebenarnya karena adanya kebutuhan untuk membuat majalah sendiri namun apa daya saya tak bisa mendesain dengan komputer. Tapi seperti kata pepatah, tak ada rotan akarpun mesti jadi sesuatu! Lalu, dibuatlah majalah tersebut dengan tehnik gunting tempel seadanya yang saya pelajari sejak dari bangku sekolah taman kanak-kanak. Kemudian tahun 2008, saya menemukan beberapa blog seniman yang menggunakan kolase dalam karya-karya mereka. Sayapun jatuh cinta lagi pada kolase.

Kolase, khususnya yang manual, menurut saya adalah sebuah tehnik berkarya yang sangat empowering karena tehnik, alat dan bahannya sederhana dan tidak mahal, namun hasilnya bisa luar biasa. Itulah yang membuat saya memilih kolase walaupun bukan lagi merupakan satu-satunya tehnik berkarya yang saya lakukan sekarang. 

2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Jakarta, ibu kota negara yang nggak keibuan sama sekali saat berada bersamanya sejak lahir hingga hari ini.

3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Di kosan yang mestinya semula ada satu meja di kamar tidur untuk melakukannya sekarang sudah pindah ke meja depan ruang tamu. Penyulut pertengkaran sungguh dengan pacar karena tidak pernah beres! Haha!

Seperti membuat kolase, mendekonstruksi sebuah susunan yang sudah rapih tertata dan membuatnya jadi tak lagi berada di tempatnya semula. Seperti itu juga ruang kerja saya di kosan yang tersebar dimana-mana itu. 

4. Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Kertas, dan akan lebih baik kalau limbah kertas. Karena saya berpegang teguh pada kalimat ini, “Mengkolase sampai tidak ada lagi yang bisa dikolase” saat saya merasa sangat kerepotan dengan sampah kertas yang saya dan orang-orang sekitar saya hasilkan setiap hari. Dan saya selalu melihat peluang untuk memgkolase semua sampah itu.

5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari profesimu? 

Kalau menjadi seniman itu tidak memiliki tenggat waktu dan klien serta mengalami stres seperti pekerjaan kantoran misalnya. Padahal kan ya plis deh haha.