5 Pertanyaan Cobra Untuk Irma Hidayana

- February 11, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto dok. pribadi Irma Hidayana

Irma Hidayana adalah pemerhati isu ASI dan gizi anak dan konflik kepentingan industri makanan bayi dengan gizi anak. Pernah bergabung di tim Nutrisi-UNICEF New York untuk mempelajari isu konflik kepentingan industri makanan bayi di program peningkatan gizi untuk negara-negara berkembang. Saat ini sedang menempuh studi doktoral di departemen Health and behavior, Teachers College, Columbia University AS. Mari kenali sosoknya melalui 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:

1.Kenapa tertarik untuk mendalami isu nutrisi? Seberapa jauh ‘tingkat urgensi’ berkaitan dengan isu ini di Indonesia?

Ini berawal dari pekerjaan saya dalam mempromosikan dan mendukung pemberian ASI sebagai nutrisi paling sesuai (lengkap, terbaik) untuk bayi dari usia 0 hingga 2 tahun atau lebih. Banyak di antara kita yang mengetahui bahwa pemberian ASI secara optimal memberikan dampak kesehatan yang cukup besar kepada anak dan ibu. Tapi sebenernya jauh lebih dari itu. Melalui dukungan, promosi dan perlindungan terhadap pemberian ASI yang optimal*, maka pelestarian lingkungan akan lebih terjamin juga. Bayangkan, jika semua anak diberikan makanan pendamping ASI dari sayur-mayur, ikan, ayam, telor, daging, atau semua makanan non-pabrikan, maka para petani, peternak, atau nelayan, akan selalu memiliki permintaan atas hasil pekerjaannya. Sehingga pemberian ASI secara optimal memberikan kontribusi terhadap kelangsungan mata pencaharian di sektor ini. Dan ketika hasil bumi terus dirawat, maka ekosistem terjaga. Dengan begitu, alam kita terawat dengan baik.

Kebetulan selain luasnya, secara geografi, tanah Indonesia diuntungkan dengan memiliki waktu tanam yang relatif lebih panjang dari pada negara-negara lain di Eropa atau Amerika. Jadi, keuntungan ini mesti dimanfaatkan sebaiknya untuk menggenjot tingkat kesehatan, hasil bumi, ekonomi, yang berujung pada kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, ASI bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk mengurangi kemiskinan. Pemberian ASI juga hanya memerlukan biaya yang relatif sangat rendah ketimbang pemberian susu formula. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Health Policy and Planning (10/16) mencatat bahwa pemberian ASI di Indonesia akan menghemat pengeluaran perawatan diare dan pneuomonia sekitar Rp.3,6 trilyun per tahun. Rendahnya tingkat kecerdasan anak-anak yang tidak mendapat ASI secara optimal mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendapatan mereka sekitar Rp.1.8 trilyun tiap tahunnya (Walters et al., 2016).** 

Namun di sisi lain, kita memiliki masalah regulasi yang cukup pelik juga. Selain kebijakan yang melindungi pemberian ASI secara optimal belum kuat, serbuan minimarket waralaba hingga ke desa-desa mengkondisikan ibu dan keluarga untuk memilih makanan yang kemasan atau pabrikan demi kepraktisan semata. Dengan iming-iming label gizi yang berderet, menjustifikasi seolah makanan kemasan tersebut memiliki gizi cukup untuk anak-anak. Belum lagi iklan susu formula yang terlalu banyak beredar di mana-mana. Semua ini mengondisikan ibu dan keluarga untuk lebih memilih produk kemasan sebagai asupan anak-anak. Padahal mereka perlu dilindungi dari segala informasi nutrisi anak yang salah.
 
2.   Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Saya saat ini berdomisili di New York City (NYC). NYC kota yang asik, yang nggak habis-habis diselami. Transportasi umum di NYC juga jauh lebih nyaman ketimbang di Jakarta. Selain itu, budaya baca di subway masih terlihat. Saya jadi ketularan juga memanfaatkan waktu perjalanan di subway untuk membaca.Tiga tahun tinggal di area NYC tapi masih terlalu banyak yang belum saya ketahui dan kunjungi di kota yang areanya lebih besar sekitar 100 kilometer persegi dari luas wilayah DKI Jakarta ini. Hidup di NYC sebagai mahasiswa cukup menarik sebab banyak “gangguan” asyiknya. Terlalu banyak hal menarik yang sayang dilewatkan sekaligus pelajari. NYC dikenal memiliki penduduk, agama, dan bahasa yang paling beragam dibanding kota-kota lain di AS. Sehingga banyak sekali yang saya pelajari dari keberagaman ini. Selain itu, gap antara si kaya dan si miskin terlalu jauh juga, menjadikan kota ini sebagai laboratorium sosial yang komplit untuk berada di dalamnya. Siapa sangka di balik kemewahan dan gemerlap Manhattan, jantung NYC, banyak gelandangan berbau pesing di mana-mana. Seru ya…

3.   Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Ada dua ruang kerja. Pertama, ruang belajar di perpustakaan kampus. Saya suka sekali karena gedung bangunan perpustakaan ini sangat kuno. Meja-mejanya pun terbilang unik. Hal yang paling saya suka adalah kursi kerjanya yang sangat nyaman. Jika pegel duduk, kampus menyediakan mesin treadmill dan meja, sehingga kita bisa membaca atau mengetik sambil berolahraga jalan di tempat menggunakan mesin treadmill ini. Namun jika musim dingin tiba, saya lebih suka bekerja di rumah, tepatnya di meja makan ruang keluarga di apartemen kami. Biasanya saya bekerja atau belajar di sini dari jam 9 pagi- 3 sore, atau pada saat jam sekolah anak. Serta malam hari dari jam 8-11, ketika anak saya sudah berada di kamar tidur. Sebenarnya saya punya meja kerja di apartemen, tapi entah kenapa bekerja di meja makan rasanya lebih nyaman.
 
4.   Apa materi/bahan (dalam konteks konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Ada dua hal. Pertama, memperkuat kebijakan nasional di bidang gizi anak. Jadi kita perlu kebijakan ASI optimal yang kuat, di mana pemberian ASI terus dipromosikan, didukung dan para ibu dan anak-anak terlindungi dalam proses pemberian ASI. Dan untuk melakukan ini, perlu data berdasarkan riset yang akurat. Termasuk di dalamnya memiliki aturan dan sanksi yang jelas dan kuat kepada para pabrik susu formula atau makanan bayi dan anak yang berupaya merayu ibu, keluarga, atau tenaga kesehatan seperti bidan, dokter anak, dan bahkan rumah sakit untuk memasarkan produknya. Kedua, pada saat yang sama, informasi tentang pentingnya ASI mesti disosialisasikan secara mainstream ke masyarakat luas. Sekarang ini sudah dilakukan di beberapa Rumah Sakit, Puskesmas, serta Posyandu-Posyandu, namun kekuatannya kurang masif. Mestinya pentingnya ASI dan resiko pemberian susu formula atau makanan pengganti ASI lainnya menjadi pengetahuan dasar yang diketahui oleh semua orang. Ibarat kita mencuci tangan pakai sabun kali ya…
 
5.   Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dalam konteks bidang yang kamu tekuni saat ini?

Pertama, bahwa susu formula is OK, jelas ini kurang tepat. Dalam kondisi medis tertentu, benar bahwa bayi bisa diberikan susu formula. Tetapi jika ibu sehat, tenaga kesehatan di Rumah Sakit mendukung, ibu mendapat informasi tepat dan bantuan teknis untuk menyusui, maka pemberian ASI secara optimal bisa terlaksana. Sudah banyak riset independen yang membuktikan bahwa pemberian makanan selain ASI, termasuk susu formula menyebabkan berbagai resiko penyakit pada bayi, maupun ketika si anak beranjak dewasa, seperti sakit yang terkait dengan jantung, diabetes tipe-2, dll.

Kedua, bahwa meskipun dengan label nutrisi berderet, bagaimanapun juga, semua makanan yang berasal dari alam, atau yang secara langsung diciptakan oleh Tuhan YME memiliki kandungan gizi alami yang lebih baik. Michael Pollan, penulis dan aktifis makanan dari AS pernah bilang kurang lebih begini: jangan memakan makanan yang nama kandungan gizinya tidak bisa dibaca oleh anak kelas 3 SD, atau yang daftar kandungan gizinya lebih dari 3 deret…
 
Rujukan:
*ASI Optimal adalah melakukan Inisiasi Menyusu Dini segera setalah bayi dilahirkan, memberikan ASI secara ekslusif selama 6 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih dengan memberikan makanan rumahan yang berasal dari bahan alami dan bergizi.
** Walters et. al. The Cost of Not Breastfeeding in Southeast Asia. Journal of Health Policy and Planning, Oct 2016.

*kawankawan bisa membaca Artikel #5PertanyaanCobra lainnya bersama:
Beng Rahadian
Yu Sing