5 Pertanyaan Cobra untuk Iwan Syahril

- March 27, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto documentassi pribadi Iwan Syahril

Iwan Syahril mengaku mencintai dunia pendidikan sejak masa kanak-kanak. Saat ini ia menjabat selaku Head of Center for Learning, Teaching, and Curriculum Development di Sampoerna University. Iwan sangat meyakini perlunya peran guru yang berkualitas untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Mengapa Iwan menekankan perlunya mengkonstruksi ilmu profesi di bidang pendidikan dan pengajaran? Ikuti obrolan seputar isu pendidikan dengan Iwan Syahril melalui 5 Pertanyaan Cobra kali ini.
 
1.   Apa yang membuatmu menekuni bidang pendidikan (edukasi)?

Sederhananya ada dua faktor:
-Pertama, refleksi saya tentang Indonesia ketika masih duduk di bangku S1 di jurusan Hubungan Internasional. Saat itu, beberapa tahun sebelum 1998, saya menyadari betapa banyak dan kompleksnya masalah yang dihadapi Indonesia. Kesimpulan saya saat itu adalah akar dari semua permasalahan ada pada masalah mentalitas dan integritas, dan cara yang paling jitu untuk menyelesaikannya ada di pendidikan. Sejak saat itu saya berkeyakinan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa dalam semua bidang. Indonesia harus memiliki pendidikan yang berkualitas, dan saya ingin ikut serta di dalam membangun sistem pendidikan yang baik untuk Indonesia.
-Kedua, beberapa tahun sesudah saya menyelesaikan S1, saya akhirnya menyadari bahwa passion saya ada di bidang pendidikan. Kalau faktor pertama di atas lebih dari pikiran, kalau faktor kedua ini lebih dari hati dan jiwa. Saya merasakan kebahagiaan dan kebermaknaan hidup ketika berkecimpung di dunia pendidikan. Pendidikan adalah passion saya.

Sejak kapan tertarik pada bidang ini?

Waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru. Saya sudah sangat akrab dengan suasana sekolah karena ayah saya, selain menjadi dosen di Universitas Andalas, juga memiliki sekolah bahasa Inggris di Padang. Sejak usia 2 tahun saya sudah merasa senang berada di dalam ruang kelas, berpura-pura menjadi anak murid ayah. Teman-teman sekelas saya bahkan ada yang sudah mahasiswa waktu itu. Tapi saya merasa betah-betah saja di dalam kelas. Tetapi karena persepsi tentang guru tidak begitu bergengsi dalam konteks sosial kemasyarakatan, tidak ada yang mendukung saya menjadi guru. Bahkan ayah saya sendiri, yang merupakan guru yang sangat sukses ketika itu, melarang saya menjadi guru. Baru sesudah saya selesai S1, saya menyadari bahwa passion saya ada di bidang pendidikan. Saya kemudian secara sadar memilih menjadi guru.

Apa tantangan terberat bagi bidang pendidikan saat ini?

-Pertama, akses untuk pendidikan yang berkualitas bagi setiap anak. Memang tidak mudah untuk negara sebesar Indonesia dengan semua kompleksitas geografis, sosial dan budaya. Warisan pendidikan jaman kolonial yang penuh segregasi antara kalangan elit dan masyarakat kebanyakan. Perlu kontrak sosial politik untuk mewujudkan hal ini. Contohnya, negara Finlandia, yang sering menjadi buah bibir sistem pendidikan yang berkualitas dan adil bagi semua warganya, memulai pembenahan sistem pendidikannya dari kontrak sosial politik. Tadinya pendidikan Finlandia penuh segregasi. Dengan sebuah proses politik yang panjang, mereka berhasil mencapai sebuah kesepakatan politik. Pendidikan berkualitas menjadi prioritas pembangunan bangsa Finlandia. Pelan-pelan, mereka membenahi sistem pendidikannya, hingga menjadi sistem yang sangat dikagumi antar bangsa dewasa ini.

-Kedua, perlunya pembentukan mentalitas profesional di antara para pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, pemerintah yang mengurusi pendidikan dan dosen-dosen pendidikan. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas pegawai negeri, atau yang disebut almarhum Koentjaraningrat sebagai mentalitas “priyayi.”

-Ketiga, kita harus bisa melakukan reimaginasi pendidikan untuk konteks abad ke-21. Dunia pendidikan kita harus mampu melakukan inovasi-inovasi dengan visi ke depan, bukan visi dunia abad ke-20.

Apa peluang apa yang kamu lihat ada pada bidang pendidikan?

Saya melihat ada kesadaran sosial yang sangat tinggi tentang pentingnya pendidikan dan perlunya inovasi pendidikan. Namun hal ini masih perlu diimbangi dengan perubahan mentalitas dan cara kerja para pemangku kepentingan di dunia pendidikan.

2.   Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Sekarang saya sedang berdomisili di Jakarta dan sedang mencoba mencintai Jakarta dengan keras kepala. Jakarta kota yang sangat ramai, panas, dinamis, dan berenergi besar.

 
3.   Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Tempat kerja ideal saya adalah kedai kopi yang nyaman dengan musik yang bikin santai dan rileks. Kedai kopi tersebut mesti bisa enak buat nongkrong sendiri dan enak buat ngumpul rame-rame bareng teman-teman.
 
4.   Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu-boleh dalam konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Saat ini saya sedang mengeksplorasi strategi dalam membuat pendidikan profesional guru. Saya berpendapat komponen paling penting dalam sebuah sistem pendidikan adalah guru, dan saat ini visi guru profesional yang dicita-citakan banyak pihak itu masih sangat jauh dari kenyataan. Untuk mewujudkan visi ini perlu kerja gotong royong dari semua elemen, mulai dari guru, dosen-dosen dan peneliti bidang pendidikan serta pemerintah. PR paling besar menurut saya adalah mengkonstruksi ilmu profesi di bidang pendidikan dan pengajaran. Saat ini ilmu profesi pendidikan dan pengajaran tersebut masih sangat berantakan sehingga tidak berperan bahkan bagi pelaku profesinya sendiri. Hal ini menjadikan salah satu alasan mengapa profesi guru dianggap rendah, karena selain masalah penghasilan, ilmu profesinya lemah. Ada persepsi yang sangat kuat bahwa setiap orang bisa menjadi guru. Dalam konteks visi profesionalisme guru, hal ini sangat problematik.

5.   Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang yang kamu tekuni saat ini? 

Persepsi bahwa menjadi guru yang baik itu mudah dan bisa dilakukan siapa saja.

*selamat membaca artikel #5PertanyaanCobra sebelumnya bersama
Dini Hatta
Beng Rahadian
Yu Sing