5 Pertanyaan Cobra untuk Jubing Kristianto

- February 27, 2017 -

Jubing Kristianto adalah gitaris akustik tunggal yang telah merilis lima album solo gitar akustik. Lingkup jenis musik yang dimainkannya beragam: dari klasik, pop, rock, jazz hingga etnik. Ia telah meraih sejumlah penghargaan dan beberapa kali menjadi nominator Anugerah Musik Indonesia. Selain itu Jubing juga menulis buku “Gitarpedia; Buku Pintar Gitaris” (Gramedia, 2005) dan “Membongkar Rahasia Chord Gitar” (Gramedia, 2007). Mari kenali sosoknya lebih jauh lewat 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:

1.Kenapa (hingga sekarang) menekuni gitar akustik? Apa kelebihan gitar akustik yang (menurutmu) tidak dimiliki instrumen musik lain?

Karena sejak 1981 mengenal gitar akustik –khususnya yang senar nilon (gitar klasik) — aku langsung jatuh cinta. Dalam banyak tolok ukur, gitar klasik punya kelebihan-kelebihan yg tak dipunyai alat musik lain.

Pertama, dia portable, mudah dibawa ke mana-mana. Kedua, dia bisa memainkan musik yang berharmoni lengkap. Artinya, meski dari satu alat saja bisa membunyikan melodi dan iringannya sekaligus. Jadi aku bisa perform sendirian saja dengan sebuah gitar, tanpa perlu dukungan musisi lain. Ketiga, karakter suara gitar klasik membuatnya cocok memainkan musik genre apa pun. Baik sebagai gitaris tunggal maupun saat main bareng musisi/penyanyi dari beragam genre. Tidak semua alat musik punya kemampuan seperti ini. Aku pernah main bareng musisi/penyanyi jazz, pop, rock, klasik, folk, blues, keroncong, sampai yang tradisional kendang, angklung, calung, dan kecapi Sunda, Di Youtube bisa ditemukan rekaman konserku dengan macam-macam musisi/penyanyi ini. Gitar klasik secara fisik juga paling intimate dengan pemainnya, dibanding alat musik lain. Agar bisa berbunyi ia harus dipangku, didekap, dibelai-belai dengan kedua tangan.

2.Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Meski lahir di Semarang, lebih dari separuh hidupku tinggal di Jakarta, Bagiku Jakarta adalah kota di mana siapa pun bisa menemukan tempat ataupun orang untuk belajar apa pun. Jakarta mungkin bisa mengecewakan, namun tidak pernah membosankan dan tidak pernah sepi dari kesempatan/peluang bagi siapa pun untuk maju dan sukses.

3.Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Ruang kerjaku yang utama ada di rumah dan di beragam panggung musik. Rumah adalah tempat berlatih mempersiapkan diri untuk tampil di panggung. Baik itu mempelajari bahan baru,  membuat aransemen dan komposisi, hingga latihan teknik. Rumah juga tempat favorit paling nyaman untuk berkomunikasi dengan teman dan fans lewat medsos.Aku bukan tipe yang betah nongkrong di kafe sambil main gadget. Malah nggak bisa fokus.

Panggung musik adalah tempat untuk menyajikan pada klien/audiens apa yang sudah aku persiapkan di rumah. Panggung adalah ruang kerja yang selalu berubah dan selalu ada hal baru, dan terkadang ada kejutan-kejutan. Inilah yang membuat panggung (musik) tidak pernah membosankan dan selalu bikin kangen.

Aku juga mengajar seminggu sekali di Yamaha Music Center untuk para calon guru dan musisi. Sehingga ruang kelas bisa dimasukkan juga sebagai ruang kerjaku. Mengajar bagiku juga menjadi sarana belajar dan mengasah kemampuan berpikir sistematis. Entah untuk metode pengajaran maupun menjawab permasalahan yang dihadapi para murid.

Ruang kerja lain yang jarang aku masuki adalah studio rekaman. Biasanya aku hanya masuk studio rekaman saat hendak membuat album atau membuat video. Tidak secara rutin. Rekaman bagiku penting karena menjadi sarana melestarikan (preservasi) karya-karyaku agar bisa dinikmati dan dipelajari oleh dunia sampai kapan pun. Di sisi lain rekaman juga menjadi etalase produk bagi calon klien yang hendak memakai jasaku. 

4.Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu-boleh dalam konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Materi terpenting adalah MUSIK.  Karena memang itulah yang sajian utama seorang musisi. Musik ini kan produk abstrak. Cuma bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian yang ditata: frekuensi (not) apa, dibunyikan kapan, dan berapa lama  Proses penataan ini dilakukan sedemikian sehingga menumbuhkan persepsi tentang suatu rasa dan makna, bahkan emosi tertentu bagi yang mendengarnya.

Sumber musikku yang pertama dari karya orang lain yg aku mainikan apa adanya –terutama dari naskah–, atau diolah lagi sebelum disajikan, Yang kedua adalah karya ciptaanku sendiri.

Untuk bisa menyajikan semua itu, diperlukan kemampuan teknis. Yakni gerak motorik jari-jari kita untuk memunculkan musik tersebut dari alat musik kita. Itu sebabnya seorang musisi harus secara rutin berlatih untuk memelihara dan mengasah kemampuan teknisnya agar tidak tumpul.

5.Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain yang kamu tekuni saat ini? 

Khusus gitar, salah paham lebih pada fungsi gitar. Kebanyakan orang masih menganggap gitar itu instrumen pengiring orang nyanyi atau alat musik lainnya. Belum banyak yang tahu bahwa kemampuan gitar sebagai instrumen tunggal itu dahsyat sekali, bila ditangani gitaris yang ahli.

Terjadi  di berapa acara, saat cek sound, operator bertanya: “Mas, berapa orang yang main?
    “Aku sendirian, Mas”
    “Oh, kirain ada grup-nya. Berarti mas-nya juga nyanyi?”
    “Nggak, Cuma main gitar aja.”
    “Oh…. (raut wajah bingung).
    Ketika aku sudah tampil, barulah si operator ini paham pertunjukan apa yang saya sajikan. instrumental gitar tunggal saja yang bisa memainkan beragam jenis musik.
    Lewat album-album rekaman –yang didominasi permainan gitar tunggal saja– dan juga rekaman video di media sosial, saya berharap lebih banyak lagi orang yang tahu dan menghargai seni bermain gitar tunggal.
   
***

*artikel #5PertanyaanCobra lainnya:
Irma Hidayana
Beng Rahadian