5 Pertanyaan Cobra Untuk Kussusanti Haris, Msi

- July 31, 2017 -

Teks oleh Prima Rusdi
Foto Koleksi Kussusanti Haris/C&G Training Network

Peningkatan kapasitas jasa pelayanan bagi para profesional adalah bidang yang ditekuni trainer specialist Kussusanti Haris Msi. C&G Training Network, perusahaan jasa pelatihan karyawan yang didirikannya pada tahun 2000 telah bekerja sama dengan beragam perusahaan dan instansi pemerintah di berbagai pelosok tanah air. Kenapa Kussusanti meyakini perlunya passion dan kemauan untuk menolong? Kenapa ia kerap diminta memberikan materi pelatihan yang berkaitan dengan service excellence dan communication skills? Waktunya kita ngobrol lebih lanjut melalui 5 Pertanyaan Cobra kali ini.
 
1.Kenapa menekuni bidang trainer specialist? Apa peluang yang terlihat saat mulai menekuni bidang ini? Apa tantangan terbesarnya saat ini?

Passion saya memang mengajar. Sejak masih kuliah sampai lulus, menjadi dosen di Universitas Indonesia hingga sekarang. Ditambah dengan pengalaman praktis di beberapa perusahaan, tahun 2000 saya mendirikan perusahaan jasa pelatihan untuk karyawan, dengan nama C&G Training Network. Alhamdulillah sampai sekarang sudah bisa membantu berbagai perusahaan swasta, BUMN, instansi pemerintah dan institusi lain dari Aceh hingga Papua, Malaysia dan Timor Leste. Peluang yang saya lihat sejak awal adalah kurangnya pelatihan yang dibawakan oleh trainer dengan pengalaman praktis berisi knowledge, skill dan attitude yang lengkap, selalu up-to-date ditambah kemampuan menyampaikan materi dengan menarik. Tantangan terbesar saat ini adalah terus bertambahnya perusahaan sejenis yang datang dan tenggelam, menawarkan program dengan harga di bawah kepantasan. Namun, pelanggan tetap bisa memilih perusahaan jasa dengan kualitas dan harga yang cocok dengan mereka. Kue masih banyak yang bisa dibagi, dengan rasa dan harga yang beraneka. Buktinya, masih banyak klien lama dan klien baru yang menjadi pelanggan setia kami, karena pelatihan yang kami berikan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dan inginkan.

 
2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Saya hanya numpang lahir di Bogor, dan sejak usia 5 tahun menetap di Jakarta tanpa pernah berpindah kota sekalipun. Jakarta semakin padat dan panas. Sejak SD hingga kuliah saya bisa menjalankan aktivitas tanpa air conditioner. Sekarang hampir 24 jam saya berada di ruang ber-AC. Kemacetan pun serupa dengan kenaikan suhu. Jarak 3 km yang dulu bisa ditempuh 15 menit, sekarang menghabiskan waktu 1 jam. Tapi saya suka dengan orang Jakarta yang bisa mempercepat ritmenya. Dengan kendala kemacetan, harus bisa menggunakan berbagai sarana untuk mempercepat pekerjaan. Jaringan internet bisa diakses di mana-mana. Dengan smartphone dan laptop yang tidak pernah saya tinggal, aktivitas bisa dikerjakan di mana saja. Siapapun yang masih lambat dan gaptek, pasti ketinggalan.
 
3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Di mana saja, di kantor, di rumah, di kampus, di jalan, asalkan ada handphone, laptop dan internet. Di sela menyelesaikan disertasi, saya bisa mengerjakan tugas kantor di kampus. Sebaliknya, di kantor, saya juga bisa menyelesaikan disertasi. Bahkan jika saya sedang berada di Sydney, di mana kedua anak saya tinggal, saya tetap bisa bekerja. Saya menuntut karyawan untuk mudah dihubungi dan cepat memberi respon. Sebaliknya saya pun demikian, harus senantiasa mudah dihubungi dan cepat memberi respon.
 
4. Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu-boleh dalam konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Saat ini prioritas saya adalah menyelesaikan disertasi saya pada program doktoral Manajemen Pemasaran, Universitas Indonesia. Tapi yang juga tidak bisa ditinggalkan adalah memenuhi berbagai permintaan mengajar training. Beberapa klien khusus meminta saya sebagai pembicara karena kecocokan mereka, hingga tidak dapat digantikan oleh trainer lain. Materi yang kerap diminta untuk saya berikan adalah mengenai pelayanan pelanggan (service excellence) dan communication skills. Materi ini pula yang menjadi topik disertasi saya, sehingga pikiran dapat tetap sejalan antara disertasi dan pekerjaan kantor. Materi ini dirasa penting bagi banyak pihak, karena sebaik apapun produk dan jasa yang diberikan perusahaan, tetap harus diiringi dengan pelayanan yang baik. Perusahaan tidak akan menang bersaing tanpa pelayanan sepenuh hati, baik dalam bisnis offline maupun online. Masih banyak perusahaan, baik di tingkat managerial yang memerlukan pelatihan mengenai manajamen pelayanan serta di tingkat petugas layanan yang memerlukan pelatihan mengenai kecerdasan emosi dalam melayani pelanggan dengan sepenuh hati, serta keterampilan berkomunikasi secara asertif.
 
5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang yang kamu tekuni saat ini?

Dalam pelayanan, kerap petugas hanya melakukannya karena sekedar merupakan tugas bagi mereka, tanpa ada passion dan kesungguhan hati. Bahkan, pada beberapa orang, pelanggan menjadi beban yang dianggap merepotkan dan menyusahkan. Masih banyak petugas layanan direkrut tanpa melihat kecerdasan emosi, passion, motivasi dan jiwa melayani mereka. Menjadi petugas layanan perlu memiliki benevolence, yakni kemauan menolong, bahkan mengesampingkan kepentingan pribadi untuk dapat memberi yang terbaik bagi orang lain. Keterampilan berkomunikasi pada beberapa petugas layanan pun masih perlu banyak ditingkatkan, baik dalam hal active listening maupun assertiveness, yakni berbicara tidak pasif dan tidak agresif.
 
 *artikel lain #5PertanyaanCobra yang bisa dibaca bersama:
Dini Hatta
Sistus Sitepu
Retno Suminaringtyas