5 Pertanyaan Cobra untuk Millaty Ismail

- August 29, 2017 -

Millaty Ismail mengawali profesinya sebagai pekerja kreatif bidang iklan, khususnya penulisan naskah iklan (copywriting). Pada kisaran 2012, Millaty menggagas lalu bersama dengan mitra bisnisnya, Ursula Tumiwa, meluncurkan usaha souvenir/merchandise yang diberi nama Indonesia Loh! (IG @indonesialoh). Kini, Millaty menjajaki profesi di bidang marketing production house. Mari kenali sosoknya melalui 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:
 
1.   Setelah berprofesi di bidang advertising, kenapa tertarik beralih ke bidang produk souvenir/merchandise dan mengembangkan Indonesia Loh! Apa peluang yang terlihat saat itu?

Buat saya, dunia advertising adalah dunia ‘bercerita’ tentang sesuatu hal kepada teman, pacar, ibu, ayah, tetangga, atau kenalan di manapun. Dan yang saya maksud ‘sesuatu’ adalah produk. Begitu banyak yang saya ingin ceritakan tapi saya terhalang, karena produk itu bukan produk saya. Tapi saat membuat produk, kita juga harus memikirkan jangka panjang produk itu. Dalam dunia advertising dikenal kata “konsep”. Konsep inilah yang akan memudahkan sebuah produk dikenal karena produk itu akan berjalan dengan konsisten sesuai konsepnya.

Berdasarkan hal itu, maka lahirlah produk Indonesia Loh! Dengan keunikan, keanehan dan kekayaan yang dimiliki Indonesia, tentunya produk Indonesia Loh! bisa menjadi salah satu pilihan souvenir/merchandise yang bercerita tentang Indonesia,

Pertanyaannya mengapa souvenir/merchandise? Karena orang Indonesia kalau ada yang mau jalan-jalan, pasti kawan atau kerabatnya ada yang menanggapi dengan bilang, “Jangan lupa bawa oleh-oleh yah.” Mungkin bukan cuma orang Indonesia tapi pelancong luar negeri yang ke Indonesia juga ingin membawa buah tangan atau oleh-oleh. Ini artinya ada peluang besar. Saya pernah bertemu dengan turis yang memborong pouch Indonesia Loh! Seri Suka Gorengan karena menurut dia, “It’s so Indonesia.” Ada lagi cerita dari teman saya yang justru mendapatkan bantal Indonesia Loh! Seri Suka Nasi dari temannya di Singapura.

2.   Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Jakarta adalah kota dengan penuh keunikan. Segala macam ada di Jakarta. Dari Jakartalah Indonesia Loh! berawal, keunikan-keunikan yang ada di Jakarta, yang kami eksplorasi. Seperti misalnya banyak orang-orang di Jakarta yang suka bercengkrama dengan laptopnya sambil minum kopi. Lalu Indonesia Loh! mengeluarkan sleeve laptop dengan visual gelas belimbing (yang sering dipakai di warung-warung di Indonesia untuk penyajian kopi) dan tulisan Saya Suka Kopi. Tanggapan pembeli sangat baik, saat produk ini kami launching.
 
3.   Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Tempat kerja nomaden, alias kerap berpindah, karena Indonesia Loh! ada dari hasil pengamatan dan berbincang-bincang dengan pembeli. Saat produk seri Saya Suka Nasi ada di pasaran, salah seorang pembeli berkata kepada saya, “Kapan bikin saya suka kerupuk?” Saat Indonesia Loh! mengeluarkan satu produk seri baru, akan ada masukan yang sangat berharga untuk ide selanjutnya.

  
4.   Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu-boleh dalam konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Materi Bahan yang di gunakan ada 3 yang utama :
(1)Material kain yang bisa disablon karena sebagian besar produk Indonesia Loh! Disablon, (2)Material anyaman dari bahan pandan untuk menunjukan ramah lingkungan sehingga tetap pada bahan alam, (3)Material daur ulang, dengan menggunakan bahan karung bekas beras dan bekas tepung terigu, serta material bekas outdoor banner yang kualitasnya kuat. Tidak semua bisa digunakan, kita harus teliti memilih bahan yang berkualitas bagus dan kuat, (4)Kain batik juga sering kami gunakan untuk beberapa produk sebagai sentuhan akhir
 
5.   Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang (souvenir/merchandise) yang kamu tekuni saat ini? 

Hasil akhir barang diharapkan sama dan persis satu sama lain, dimana hal tersebut perlu usaha dan waktu yang lebih lama lagi, sangat mungkin pembuatannya berulang-ulang. Hal ini akan menyebabkan efek lain untuk pemasaran dan penjualannya. Produk sablon, walupun gambarnya kecil, biaya pada pewarnaan menjadi mahal pada saat menggunakan beberapa warna pada produk . Dan saat kami memiliki hasil produk yang dengan kualitas bagus dan baik, dan diberi harga tinggi, apresiasi dalam harga yang kita berikan di pertanyakan, kenapa yang seperti ini mahal? Intinya produk handycraft diharapkan berharga murah sementara proses pembuatan sampai jadi produk butuh proses yang panjang, mulai dari proses ide, proses pencarian bentuk produk dan design grafisnya, proses pencarian bahan, proses printing, dan proses akhir dijahit atau dianyam. 

Hal ini sama seperti ketika saya masih menjadi kreatif di dunia advertising. Saat mereka melihat iklan TV dengan durasi 30 detik, mereka akan bilang cuma segitu aja, pulang sampai dini hari. Mereka tidak tahu betapa ribetnya membuat satu iklan agar biar bisa ditonton.

*artkel 5 Pertanyaan Cobra terdahulu yang dapat kana-kawan baca
Kussusanti Haris

Sistus Sitepu
Iwan Syahril