5 Pertanyaan Cobra untuk Miranti Gumayana

- February 20, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto dok. pribadi Miranti Gumayana

Arsitek Miranti Gumayana juga menekuni usaha rumahan bidang kuliner. Salah satu karya arsitekturnya adalah paviliun Indonesia pada Expo Milano 2015 yang dirancangnya bersama Dani Hermawan dan Rubi Roesli. Sejak 2004 ia juga memasarkan Sambal Matah Api, yang kemudian disusul dengan Salmon Asap Api, serta rangkaian Bumbu Masak Api. Mari kenali sosoknya melalui 5 Pertanyaan Cobra berikut ini:

1.Setelah berprofesi sebagai arsitek, kenapa tertarik pada bidang kuliner dan menekuni/mengembangkan usaha Sambal Matah Api, Salmon Asap Api dan seri Bumbu Masak Api?

Sebenarnya passion saya dari kecil itu memang masak, kesenangan saya dari dulu ‘nguplek’ di dapur. Dan walaupun saya menekuni profesi sebagai arsitek, tapi tidak pernah meninggalkan hobi tersebut, apalagi waktu tinggal di New York untuk bekerja, malah semakin sering berkreasi di dapur. Ada kesamaan antara berarsitektur dan memasak, sama-sama menciptakan sesuatu melalui proses kreatif dan imajinatif, tapi mediumnya berbeda. Memasak itu menjadi semacam terapi untuk saya menenangkan pikiran saat otak lelah karena kerjaan arsitektur, tapi tetap melakukan dan menghasilkan sesuatu yang kreatif.

Sejak 2004 saya kembali ke Jakarta, setelah beberapa tahun tinggal disini, mulanya iseng aja coba untuk menjual sambal yang sering saya bikin waktu di New York, karena waktu itu saya lihat mulai banyak orang yang mulai usaha rumahan seperti itu (sambal, cookies, etc), dan sambal saya ini banyak teman-teman yang suka tiap kali saya undang mereka untuk makan-makan di rumah. Saya bertanya kepada beberapa teman dan ipar-ipar yang sudah menjalani bisnis rumahan seperti ini, dan dari berbagi pengalaman dengan mereka, saya lihat ada potensi yang menarik (dalam hal penghasilan) untuk memulai hal yang serupa

Kalau untuk salmon asap, sekitar beberapa tahun yang lalu saya liburan ke Belanda dan iseng beli smoker disana untuk dibawa pulang, setelah pulang ke Jakarta mulai berkreasi dengan alat tersebut untuk membuat salmon asap, ternyata enak, saya jadi terpikir untuk menjualnya juga.

Kalau untuk bumbu (mixed seasonings), itu juga bermula dari keisengan saya menambah produk. Karena saya sering kecewa dengan bumbu racik yang dijual di pasaran, sebab terasa artificial dan kurang otentik. Jadi saya mulai memformulasikan tiga macam bumbu racik yang selama ini sering saya bikin untuk masak sendiri, dan mulai saya produksi untuk tambahan item jualan saya

2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Ada dua kota yang saya anggap sebagai kota saya, yang pertama Jakarta tempat saya lahir, besar dan hidup sekarang. Dan New York, tempat saya menimba pengalaman setelah lulus kuliah selama 6 tahun. Dua-duanya dapat dideskripsikan sebagai kota yang hidup (alive), intens dan menginspirasi, karena banyaknya keanekaragaman dari berbagai aspek kehidupan yang bisa ditemui di dua kota ini

3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Tempat saya bekerja di rumah, kalau untuk masak di studio Dapur Matah Api (paviliun belakang rumah), kalau untuk mendesain di sofa depan televisi di ruang keluarga (karena saya bekerja sendiri tidak punya pegawai). Keduanya dapat dideskripsikan sebagai ruangan yang nyaman

4. Apa materi/bahan (dalam konteks kerja) yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Imajinasi, ketekunan, penguasaan ilmu dan keterampilan, karena tanpa ketiganya proses berkreasi akan terhambat dan kualitas produk/pekerjaan yang dihasilkan juga akan subpar (di bawah standar)

5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain (dalam konteks kuliner) yang kamu tekuni saat ini?

Kekurangpahaman orang mengenai makanan/bahan apa yang sehat/tidak sehat, menggemukkan/menguruskan. Banyak yang sekedar mengikuti trend diet yang sedang populer, padahal belum tentu benar atau cocok diaplikasikan dalam diet (asupan) sehari-hari.

*artikel lain #5PertanyaanCobra untuk
Irma Hidayana
Beng Rahadian