5 Pertanyaan Cobra Untuk Retno Suminaringtyas

- April 21, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto dokumentasi pribadi Retno Suminaringtyas

Retno Suminaringtyas, pendiri Rumah Jahit & Sulam Srengenge, sudah diwajibkan sang ibu untuk bisa menjahit dan menyulam sejak kelas 5 SD. Kini, sejumlah karyanya yang mengutamakan detil dan tehnik jahit berkemampuan tinggi bisa dilihat di (IG:@srengenge_handmade, FB: Retno Kalagan), dan sebagian dari karya terbarunya ditampilkan pada Indonesian Fashion Week 2017. Lulusan jurusan Hubungan Internasional FISIP UI (1992) ini awalnya bekerja ‘kantoran’ meski ia tak pernah bisa lepas dari dunia jahit dan sulam. Retno juga kerap memberikan kelas menjahit baik bagi pecinta jahit, maupun sebagai upayanya membantu anak-anak kurang mampu di kawasan tinggalnya. Kenali sosok Retno Kalagan lewat 5 Pertanyaan Cobra kali ini.

1.Apa yang membuatmu menekuni seni menjahit? Secara ringkas, bagaimana Rumah Jahit & Sulam Srengenge digagas? Peluang apa yang ada pada saat itu?

Dimulai sejak usia muda. Di keluarga saya, menjahit, merajut dan menyulam adalah ketrampilan yg wajib dipelajari. Sejak kelas 5 SD, saya wajib menjahit sendiri baju lebaran dan baju-baju lain untuk dipakai sendiri. Menyulam dan merajut bisa dikerjakan sekali-sekali. Hobi ‘wajib’ biasa kami kerjakan di rumah untuk mengisi liburan atau waktu luang. Pada jamannya, ibu saya belajar menjahit dan menjadi murid Peter Sie dan Irma Hadisurya. Dan mempunyai konveksi yang menjahitkan baju-baju Iri Supit. Jadi guru saya adalah ibu.

Hingga dewasa, terutama saat kegiatan kantor sedang padat, saya perlu pelepas stres. Jadilah saya semakin menggilai kerajinan. Pada saat itu, biaya kursus cukup tinggi, sedangkan ketrampilan yg didapat cuma sedikit. Akhirnya mulailah berburu buku-buku kerajinan yg mengajarkan step by step belajar dari pemula sampai mahir. Mulai dari smocking, sulam pita, sulam bullion dll. Ketrampilan yg saya miliki, hampir semuanya saya pelajari dari membaca buku. Semakin stres, saya semakin produktif. Sehingga rasanya menyulam itu seperti menggambar di atas kain.

Rumah Jahit & Sulam Srengenge sendiri sebetulnya sudah terbentuk sekitar tahun 1993-1994. Tapi saat itu lebih fokus pada baju-baju. Lalu vakum cukup lama. Pada 2004 dihidupkan kembali sejak saya terkena PHK. Produk yang dibuat adalah baju-baju dengan sulaman. Awalnya baju dewasa, dan hanya dibuat atas pesanan. Kemudian mulai ada pesananan baju anak-anak dan mukena. Semua dengan sulaman. Pada awal-awal semua dikerjakan sendiri. Saya belum mampu membayar karyawan dan memang pesanan masih sedikit sekali. Tiga tahun pertama jumlah pesanan bisa dihitung dengan jari.

Tahun 2008-2009, seorang teman menitipkan sejumlah uang dana infaq dan sodaqoh. Dengan pesan supaya digunakan untuk melatih ketrampilan ibu-ibu yang kurang mampu di sekitar rumah, supaya mereka menpunyai penghasilan tambahan. Dana yang ada digunakan untuk membeli bahan-bahan. Pelatihan dilakukan selama satu tahun, dua kali pertemuan dalam 1 minggu. Pelajaran yang diberikan, sulam pita, sulam benang, merajut dan menjahit mote.

Sesudah ibu-ibu ini selesai belajar, ternyata persoalan baru muncul. Mereka tidak bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan ketrampilan yang ada. Sehingga ahirnya saya beranikan memberi pekerjaan sedikit-sedikit, sambil mencari peluang untuk memasarkan produknya. Masing-masing diberi pekerjaan sesuai kemampuan.

Ada yang sudah bisa mengerjakan semua ketrampilan, ada yang hanya bisa merajut, ada yg hanya bisa merajut pola tertentu saja. Masing-masing ibu menyerap ilmu sesuai dengan keterbatasan masing-masing.

Pelatihan ini terus berlanjut walaupun dana infaq sodaqoh sudah tidak diterima lagi. Dan di tambah pelajaran menjahit baju untuk beberapa ibu yang berminat, sekaligus mengerjakan pesanan sedikit demi sedikit.

Kesempatan semakin terbuka pada th 2016, pada saat menerima pesanan suvenir dari Danone Indonesia. Dari situ kami berkesempatan mengikuti Indonesia Fashion Week, INACRAFT dan Indonesia Fashion and Craft. Pada 2017, koleksi kami diberi kesempatan menjadi bagian Fashion Show pada Indonesia Fashion Week.

2.Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Bandung dan Cibinong (Bogor). Kota yang nyaman, tidak panas, tidak penuh mal, masih banyak pohon, tidak heboh dengan kemacetan. Tidak terlalu besar, tapi segala yang diperlukan ada.

3.Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?

Ruang kerja bisa dimana saja. Yang penting harus bisa nyaman untuk duduk selama berjam-jam, peralatan yag diperlukan ada disekitar, ada suara musik. Cukup sepi dari kegiatan & lalu lalang orang lain. Ruang kerja juga harus tertata rapi. Saya termasuk yg tidak bisa bekerja kalau ruangan untuk kerja berantakan. Ruang kerja tidak harus bagus dan khusus, tapi penting bersih dan rapi. Ruang yang bersih & rapi membangun mood yang bagus, sehingga bisa mendapat banyak ide.

4.Apa materi/bahan dalam konteks kerjamu yang menurutmu paling penting dan kenapa?

Setumpuk kain, karung, benang aneka warna, jarum, hakken, asesories, kulit, setumpuk buku atau foto-foto. Sebetulnya bahan dasarnya yang itu-itu saja. Buku-buku juga memberi contoh produk yang nyaris itu-itu juga. Tapi pada saat melihat aneka bahan baku, bisa timbul ide-ide baru.

5.Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang yang kamu tekuni saat ini? 

Konsisten, tekun dan sabar. Segala sesuatu hasilnya tidak pernah instan dan harus dikerjakan dengan sepenuh hati. Jangan pernah berhenti belajar, jangan pernah takut gagal dan jangan takut untuk bereksperimen. Jangan hanya belajar satu macam ketrampilan, belajarlah beberapa macam ketrampilan dan padukan.

*selamat membaca artikel #5PertanyaanCobra lainnya bersama:
Sistus Sitepu
Iwan Syahril
Dini Hatta