5 Pertanyaan Cobra Untuk Sistus Sitepu

- March 31, 2017 -

Wawancara oleh Prima Rusdi
Foto dokumentasi pribadi Sistus Sitepu

Sistus Sitepu pernah menjadi mahasiswa jurusan Design Interior Institut Kesenian Jakarta (Angkatan 1999). Selain itu, ia juga tergabung di dalam band Berisik N*en*ot. Penampilan band ini masih bisa dilihat via Youtube. Kini, Sistus menyebut dirinya sebagai petani kopi yang bermukim di Medan. Hasil kerjanya bisa diperoleh dalam bentuk kopi yang dikemas dengan nama Pe 88. Kenali sosoknya lewat 5 Pertanyaan Cobra kali ini.

1.  Apa yang membuatmu menekuni (bidang penanaman) kopi?
 
Sebenarnya sudah lama menekuni bercocok tanam kopi dan memang sudah turun- temurun dari keluarga.
Alasan lainnya, saya memang mau membangkitkan semangat para petani agar kembali menanam kopi. Karena, memang jumlah petani di kawasan Tanah Karo yang mau menanam kopi semakin sedikit. Umumnya mereka beralasan karena hasil perolehan dari bertanam kopi sudah tidak dihargai, alias harga jual terlalu murah. Meskipun kopi yang dihasilkan kualitasnya tinggi. Karena hasil dari penjualan kopi tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka para petani kopi beralih ke tanaman jenis lain. Seperti tanaman sayur-sayuran.
 
Secara ringkas, bagaimana Pe 88 (pe DlapanDlapan) digagas?

Pe 88 digagas bersama beberapa petani kopi yang kerap berkumpul dan berdiskusi soal kopi. Waktu itu tujuannya untuk meningkatkan produktifitas hasil tanam kopi dan juga meningkatkan penghasilan petani kopi. Caranya dengan menghasilkan produk kopi yang layak untuk dipasarkan.
 
Apa tantangan terberat menggagas/memulai Pe 88?
 
Terus terang, yang pertama adalah keterbatasan dana dan tenaga. Lainnya, mengajak petani kopi untuk kembali mau menanam kopi.

Peluang apa yang kamu lihat ada pada saat itu?
 
Saya masih punya keperdulian kepada para petani kopi yang punya hasil tani berkualitas dan memang layak dikonsumsi.

2. Di mana kotamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?
 
Kota Medan. Di satu sisi barangkali terlihat ada pembangunan infrastruktur, tapi juga masih banyak kekurangan pada cara pengelolaannya. Misalnya banyak hal yang belum diperhatikan secara serius. Gedung-gedung tua yang punya nila sejarah belum terawat dengan baik. Di sini juga surga makanan enak.
 
3. Di mana ‘ruang’/tempat kerjamu dan bagaimana kamu mendeskripsikannya?
 
Di kebun atau ladang. Tepatnya lebih banyak di luar ruangan, misalnya waktu menjemur biji kopi. Proses kerja di dalam ruangan pada fase roasting dan cupping.

4. Apa materi/bahan (dalam konteks kerjamu-boleh dalam konteks pekerjaan secara umum atau spesifik seperti pertanyaan nomor-1) yang menurutmu paling penting dan kenapa?
 
Materi yang paling penting selain lahan, alat-alat pertanian, pupuk, adalah sumur bor air, mesin hulling, mesin roasting, doom atau green house untuk menjemur biji-biji kopi setelah dipetik. Selain itu ada mesin grind biji kopi, komputer/laptop berikut hardisk external untuk mengumpulkan data pertanian dan data petani. Selain itu saya tentunya memerlukan komputer saat menggarap konsep kemasan Pe 88. Transportasi juga penting untuk proses bongkar-muat dari lahan pertanian dan mencapai lokasi tempat pengolahan dan pengeringan biji kopi.
 
5. Menurutmu, apa yang kerap disalahpahami (kurang dimengerti) orang lain dari bidang yang kamu tekuni saat ini?

Kadang-kadang orang lain tidak paham perlunya kesabaran saat menekuni bidang seperti yang saya kerjakan sekarang. Setelah saya menjadi petani kopi, sebelum menanam bibit kami harus memeriksa lahan yang akan ditanami kopi. Proses ini perlu waktu yang tidak singkat. Pemilihan bibit kopi juga perlu ketelitian serta lagi-lagi harus menunggu waktu yang tepat.

Tahap perawatan sesudah bibit kopi ditanam juga memerlukan modal kesabaran. Setelah pencucian dan penyortiran biji kopi (memilih biji kopi yang berkualitas dan memisahkannya dari yang kurang berkualitas), dilakukan proses penjemuran. Kemudian proses roasting, diikuti dengan penggilingan, pengemasan. Sebelum fase packaging juga dilakukan perbandingan rasa kopi. Intinya, kesabaranlah modal yang utama untuk menghasilkan kopi berkualitas yang siap dikonsumsi. Tak ada fase yang bisa dilakukan dengan terburu-buru.

*artikel #5PertanyaanCobra lainnya yang dapat kawan baca:
Iwan Syahril
Adella Fauzi
Irma Hidayana