David Hersya : ” Inti dari kesemua tema SEMAKBELUKAR adalah persiapan untuk mati.”

- August 19, 2013 -

Teks: harlan Boer. Foto: Dok. SEMAKBELUKAR

Belukaria-Orkestar-(Photo-by-Obay-Minoral)

Wawancara ini sebetulnya sudah berlangsung sejak sekitar setahun lalu, via surat elektronik. David Hersya bercerita tentang bagaimana terbentuknya formula audio Melayu SEMAKBELUKAR, yang syahdu bersama syair-syairnya. Kini, terkabarkan bahwa SEMAKBELUKAR juga akan merilis EP format piringan hitam 7” bersama Elevation Records, kita nantikan saja. Sementara single “Kalimat Satu” telah diluncurkan melalui internet, dan mendapat kesan yang baik dari khalayak.

Berapa usia kamu ketika mulai menulis lagu-lagu pertama SEMAKBELUKAR?

Sekitar umur 22 tahun.

Musik-musik apa saja yang sering kamu dengarkan saat itu?

Yang selalu saya dengar waktu itu adalah band yang musiknya sangat jauh berbeda dengan SEMAKBELUKAR, seperti Bad Religion, Kashmir, Sonic Youth.

Dari mana kesadaran menggunakan musik tradisi Melayu sebagai ‘kendaraan’ untuk ekspresi kamu? Apa yang menginspirasi?

Rasa jenuh akan hingar bingar. Profesi yang saya geluti mengharuskan saya untuk mendengar musik secara berulang-ulang. Rata-rata musik yang saya dengar dan kerjakan adalah musik yang penuh dengan dentuman drum yang kencang, raungan gitar berdistorsi dan teriakan vokal yang riuh. Sebagai manusia biasa, maka wajarlah bagi saya untuk merasa jenuh dan mencari penetralisirnya. Telah ditetapkan pula bagi saya untuk tumbuh dan dibesarkan di daerah yang sebenarnya sangat identik dengan musik tradisi Melayu, namun sayangnya, saya ingkari dan saya jauhi. Akhirnya, rasa jenuh itu mendorong saya untuk kembali membuka hati kepada musik tradisi Melayu yang ternyata, jauh dari apa yang saya sangkakan. Terlebih lagi ketika banyak bermunculan band dalam industri musik yang mengusung musik pop bernada minor dan mendayu-dayu, hingga akhirnya hampir semua orang senada memberi label kepada mereka sebagai band yang mengusung musik Melayu atau Pop Melayu, namun hal itu tidak seiring dengan pemahaman yang jelas dan benar tentang bagaimana musik dalam tradisi Melayu yang sebenarnya. Di sini saya tidak mencela kemampuan dan karya mereka, bagaimana pun, karya mereka telah terbukti sangat menghibur dan mendapat tempat di hati sebagian besar masyarakat, saya hanya mengingkari label Melayu dalam musik populer mereka yang sayangnya keluar melalui mulut dan juga tulisan dari banyak musisi atau pengamat musik.

Mandolin, akordeon, perkusi . . . apa saja menurut kamu daya tarik tertentu bagi instrumen-instrumen musik itu?

Semuanya memiliki suara yang khas dan sangat identik dengan musik tradisi Melayu. Ketika suara cempreng Mandolin, alunan Akordeon yang terkadang memilukan dan terkadang meriah, serta Gendang Melayu dan Gong kecil yang bertalu sehingga memberi rentak berkesan mistis apabila didengar solo tanpa instrumen lainnya, maka daya tariknya adalah ketika mereka bertaut menjadi satu kesatuan dan mampu mengiringi syair dan lirik secara utuh.

Nama apa saja yang sempat terlintas sebelum akhirnya kamu memutuskan SEMAKBELUKAR sebagai band kamu? Kenapa akhirnya memilih SEMAKBELUKAR?

Tidak ada nama lain, hanya itu yang terlintas, tetapi pada EP pertama ‘Semoga Kita Mati dalam Iman’ dan EP kedua ‘Mekar Mewangi’, kami masih memakai nama BELUKAR. Selang beberapa minggu perilisan ‘Mekar Mewangi’ kami merubah nama menjadi SEMAKBELUKAR. Sederhana saja, boleh dimaknai dengan ‘Tanpa kehadiran semakbelukar, bunga tak akan terlihat indah.’
Bagaimana kota Palembang mempengaruhi proses berkarya kamu? Seperti apa situasinya?
Pola kehidupan atau adat istiadat masyarakat di Palembang begitu sangat mempengaruhi nuansa musik SEMAKBELUKAR, yang rasanya nuansa tersebut tidak bisa saya dapatkan di kota lain.

Untuk visual, apakah kamu mengerjakan sendiri artwork-artwork dan video musik SEMAKBELUKAR? Atau dikerjakan oleh seniman lain? Bisa diceritakan sedikit tentang artwork-artwork itu?

Sila dilihat di http://semakbelukar.posterous.com Satu artwork berupa ilustrasi seekor lebah yang dibuat oleh teman kami Bayu Wuri Andhika dari Racun Cinta Produksi. Sisanya adalah foto-foto dari Ricky Zulman (OVM Studio), Belukaria Orkestar yang bermain akordeon, beliau juga adalah orang di balik penggarapan video musik SEMAKBELUKAR, hampir semua video musik SEMAKBELUKAR dan beberapa band di Palembang adalah karyanya. Hanya satu yang saya bikin sendiri yaitu ‘Sejuknya Matahari’.

Cerita dibalik SEMAKBELUKAR merilis EP bersama Yes No Wave Music?

Awalnya kami ingin merilisnya sendiri seperti dua album sebelumnya, tetapi seorang teman yang bernama Farid Amriansyah atau yang lebih dikenal dengan nama Riann Pelor, memperkenalkan dan menjembatani SEMAKBELUKAR pada Yes No Wave Music. Menurutnya, kalau dirilis via net label seperti Yes No Wave akan mempermudah kita menyebarluaskan materi kita. Kami fikir itu masuk akal, kami mengamini pendapatnya walau sebenarnya kami ragu apakah net label sekelas Yes No Wave mau merilis materi yang kami punya. Gayung bersambut, pihak Yes No Wave bersedia merilisnya, untuk itu kami ucapkan terima kasih.

Sejauh ini, SEMAKBELUKAR sudah bermain di mana saja? Bagaimana reaksi penonton terhadap pertunjukan kalian? Ada hal menarik yang bisa diceritakan mungkin?

Baru lima panggung, tiga panggung pertama di Palembang. Ke-empat adalah di acara AMNGIGS Part 12 di Pisa Cafe Menteng, Jakarta yang baru-baru kemarin di selenggarakan oleh Deathrockstar & Hyperrealmovement. Panggung ke-lima di acara Indies Mixmax Palembang, empat hari setelah panggung di Jakarta kemarin. Mengenai reaksi penonton, terus terang, Jakarta lebih berkesan, karena apresiasi yang jujur bisa kami dapatkan di sana, karena kami hampir tidak mengenal semua penonton yang datang. Penonton yang suka dan tidak, terlihat jelas disana. Semoga kehadiran kami kemarin bisa bermanfaat, minimal menghibur.

Bisa tolong sebutkan nama-nama personil SEMAKBELUKAR berikut instrumennya?

SEMAKBELUKAR itu adalah sebuah produk. Ketika di rekaman dan di panggung, karya atau lagu SEMAKBELUKAR tersebut di bawakan oleh grup atau individu yang biasa kami sebut Belukaria Orkestar. Pada tiga mini album SEMAKBELUKAR kemarin, Belukaria Orkestarnya berbeda-beda, di ‘Semoga Kita Mati dalam Iman’ ada saya dan Mahesa Agung, di ‘Mekar Mewangi’ ada saya dan Ariansyah, terakhir di ‘Drohaka’ juga hanya ada dua orang yaitu, saya dan Ricky Zulman. Ketika di panggung, Belukaria Orkestar bisa siapa saja dan tidak tetap. Berbeda panggung bisa saja berbeda personil, bisa dilihat di beberapa video live kami, semua tidak pernah sama. Tetapi, inti dari Belukaria Orkestar itu ada empat orang yaitu, David Hersya (vokal, mandolin, gendang melayu, kompang) Ariansyah (gitar, mandolin, gendang melayu, kompang) Ricky Zulman (akordeon, harmonium) Mahesa Agung (gong, thamborin, kompang, mandolin).

Siapa saja musisi yang paling kalian gemari karya-karyanya?

Kami semua menggemari Beirut Band dan Intidhar Kammarti, atau yang sejenis dengan keduanya. Untuk Melayu, kami menggemari hampir semua Biduan dan Biduanita semacam Said Effendi, M. Mashabi, Ida Laila, Wahid Tamsir, Zainab Mohd, Rafeah Buang, Roseyatimah, bahkan Siti Nurhaliza.

Sesungguhnya tema-tema apa saja yang paling menggerakkan kamu untuk menulis lirik lagu bagi SEMAKBELUKAR? Kenapa?

Inti dari kesemua tema SEMAKBELUKAR adalah persiapan untuk mati.

Bagaimana kalian melihat musik Indonesia hari ini? Apa saja yang menyenangkan dan tidak dari itu semua? Dan di mana posisi SEMAKBELUKAR menurut kamu?

Latah. Nyaris tidak ada yang menyenangkan dari sebuah kelatahan. Posisi pasti SEMAKBELUKAR ialah berada di bawah mistar gawang musik tradisi khususnya Melayu.

Punya syair atau pantun favorit, mungkin?

Saya mau bagi yang saya tulis sendiri saja untuk materi SEMAKBELUKAR nanti.

Seloka Beruk

ayuhai putri cantik nan menggoda
masanya budak dikenakan lampin
adat diinjak budaya ternoda
semenjak beruk menjadi pemimpin

masanya budak dikenakan lampin
sembari ditimang didendangkan
semenjak beruk menjadi pemimpin
halal dan haram pun dimakan

Selain musik, apa yang paling kamu gemari?

Ikut pengajian . . . Hehehee