Focus on Prilla Tania. Video Out. OK Video Festival 2011

- November 23, 2011 -

Oleh: Mia Maria
Foto: Anggun Priambodo & dok. Prilla Tania

Prilla Tania disorot sebagai seniman perempuan muda, dengan kata perempuan yang digarisbawahi oleh sebagian orang. Pada pembukaan pameran yang dihadiri beberapa tokoh wanita di dunia senirupa, tentu saja terjadi pembicaraan tentang ‘wanita’ dan perannya di bidang senirupa dan dunia; risol- kata ‘feminis’- risol- kata ‘feminis’, begitulah kira-kira irama yang terjadi di sekitar meja snack LINGGARseni Kemang Timur 36 malam itu.

Pameran yang dibuka pada 15 Oktober ini dikuratori oleh direktur ruangrupa, Ade Darmawan, sebagai bagian dari OK Video Festival ke 5. Di festival yang kelima ini, OK Video menghadirkan parallel event mereka untuk menfokuskan ke beberapa seniman yang sudah menunjukkan dedikasi yang konsisten kepada karya video Indonesia, di antaranya Reza “Asung” Afisina, Wimo Ambala Bayang, Henry Foundation, dan Prilla Tania.

Karya-karya Prilla kelihatan rapi dan sederhana secara visual, horizontal eye level perspective, dan bergerak hanya di satu frame. Prila menggunakan teknik still images, dimana ia menggambar menggunakan kapur di dinding dan memotret setiap gerakan dan menggabungkannya untuk membuat pergerakan. Prila mengambil object dan subject keseharian seperti memompa dan memindahkan air, menjemur pakaian, dan mengupas pisang. Dalam tema yang kelihatan simpel ini, Prila banyak menyuarakan penyebab pemanasan bumi dan limbah yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Ada juga tampilan-tampilan visual yang cukup jelas, seperti penebangan pohon, dan juga simbolisme tentang batas dalam karyanya, ‘ManggaTetangga.’ Dalam waktu tayang yang singkat dan tampilan visual sederhana, Prila berhasil menghadirkan drama, menyampaikan ke dalaman gagasan, dan melempar suatu ‘twist’ menarik dalam rentetan pemikirannya.

Sisa-sisa hapusan kapur Prila yang turut terekam di gerakan-gerakan berikutnya seperti mengingatkan kita bahwa perbuatan berikutnya adalah hasil dari perbuatan sebelumnya, dan perbuatan yang sudah dilakukan tidak hilang begitu saja.

Prila menunjukkan kecermatan dalam memecah gerakan, membekukannya, dan menyusunnya kembali dengan dinamis. Secara natural menggunakan gaya visual yang feminin,

Prila tak perlu bicara banyak tentang kefemininan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan.

*Tulisan feature tentang seni video Indonesia 2001-2011 ada di Majalah Cobra volume 2, ditulis oleh Farah Wardani