Kapan Main dan Nonton Lagi, Kak?

- October 16, 2017 -

Teks oleh Cisilia Agustina
Foto oleh Vifick dari #SayaBercerita

*Bermain, Bernanyi dan Menonton Bareng Semeton Cilik di Pengungsian SKB Bangli

Puluhan anak-anak tampak berkumpul di depan gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kayuambua, Susut, Bangli, sejak Jumat (13/10) sore, tepat saat rombongan 3rd Minikino Film Week (MFW) tiba dari Denpasar.

Ya, Gedung SKB Kayuambua Bangli ini menjadi salah satu sekaligus titik terakhir untuk Pop-Up Cinema 3rdMFW.

Sembari menunggu persiapan, anak-anak, tim dan peserta 3rd MFW mengisi waktu dengan bermain dan bernyanyi bersama. Setelah layar ditancapkan, anak-anak, para orang tua dan masyarakat lainnya yang merupakan pengungsi Gunung Agung ini mengambil posisi duduk, menanti apa yang akan ditampilkan malam itu.

“Kak, ini kita mau nonton film apa? Ada film hantu gak? Kami ingin nonton, gak takut kok,” kata Ni Luh Okta (8), bocah pengungsi asal Desa Besakih, ditimpali seruan senada teman-temannya.

Ya, anak-anak yang menjadi “penonton utama” Pop Up Cinema 3rd MFW di Gedung SKB Bangli tampak antusias. Sambil terus bertanya akan film apa yang diputar, mereka penasaran apakah ada film dengan genre horor sesuai ekspektasi mereka akan diputar atau tidak. Tentu tidak ada film horor malam itu. Dua dari 3 buah program film pendek diputar, Dream of Tomorrow dan program Sanggar Siap Selem. Namun tak menyurutkan antusiasme para semeton cilik malam itu.

Apalagi dengan bonus udara dingin khas pedesaan Bangli yang cukup menusuk ditambah cuaca yang hampir diguyur hujan, ditandai rintik-rintik air hujan yang datang datang dan pergi. Para penonton tetap bertahan hingga di penghujung program kedua.

Sesungguhnya akan ada 3 program yang akan diputar malam itu. Namun, satu program terakhir, S-Express Indonesia urung diputar. Hal tersebut melihat situasi yang memang tidak memungkinkan, udara yang semakin dingin dan anak-anak yang butuh istirahat karena malam yang semakin larut.

Konsep layar tancap atau juga yang akrab disapa Misbar (gerimis bubar) sendiri sudah hadir sejak lama di Bali. Bahkan sekitar tahun 1970 – 1980 an, kehadiran layar tancap makin marak di berbagai desa, khususnya di banjar-banjar untuk menampilkan film bagi para warga, menjangkau daerah-daerah yang jauh dari gemerlapnya bioskop di perkotaan. Hingga kemudian menghilang seiring hadirnya TV di rumah-rumah warga.

Budaya menonton ala layar tancap ini pun kembali hadir beberapa tahun terakhir ini, termasuk di Bali. Dan kali ini pun konsep tersebut kembali diusung dalam 3rd Minikino Film Week. Gedung SKB Bangli, menjadi tempat perhentian terakhir Pop Up Cinema dalam rangkaian MFW tahun ini. Awalnya pemutaran pop up cinema terakhir ini akan dilaksanakan di Lapangan Volly, Dusun Jeruk Mancingan, Bangli. Namun menurut Made “Birus” Suarbawa, Executive Director 3rdMFW sekaligus sang kepala suku program pop up cinema, lokasi ini dipindah, melihat akan lebih baik jika dilakukan di SKB Bangli, sebagai salah satu posko pusat pengungsian di daerah tersebut.

Mendekatkan festival dan film itu sendiri dengan para warga desa sekaligus memberikan hiburan bagi para pengungsi yang berasal dari Besakih, Bebandem, Ban, Datah dan berbagai daerah terdampak lainnya di Karangasem jika Gunung Agung meletus.

Bagi para warga desa termasuk pengungsi dalam kondisi ini, kehadiran hiburan sederhana seperti ini tentu menjadi penyegar kejengahan menunggu kepastian akan erupsi tidak-nya Gunung Agung. Di mana bagi para orang tua menonton film ini bisa untuk menepiskan sejenak kegelisahan dan bagi anak-anak sendiri mengisi kegiatan mereka yang tentu.

Apalagi bagi anak-anak yang belum mendapatkan sekolah alternatif terdekat selama di pengungsian. Di mana masih ada sekitar 8 anak, yang baru sekitar 5 hari pindah ke SKB Bangli ini yang belum mendapatkan sekolah yang baru. Tentu acara dan aktivitas seperti ini bisa mengisi kekosongan mereka.

“Senang banget, bisa nonton, main. Kapan kita main lagi kak?,” kata Okta di penghujung pemutaran film malam itu.