Lalu Biru

- February 10, 2017 -

Cerpen oleh Hening
Foto oleh Anggun Priambodo

Berharap masa-masa itu kembali dan memperbaiki segalanya adalah tidak mungkin. Walaupun membayangkan kemungkinannya saja sudah membuat hati bungah. Bukan hanya bungah tetapi juga ragu. Kalau benar bisa kembali ke masa yang sama, kamu akan berada di pangkuan atau mungkin beradu punggung dan bercakap-cakap tanpa saling memandang. Seperti itu lebih menenangkan. Sehingga matamu tidak setiap saat menangkap bola mata yang tidak berani memandang.

Selamanya tidak pernah ada komitmen. Begitu lebih menenangkan. Demikian, diri tidak selalu merasa dikejar bayangan dan panggilan. Begitu lebih rendah hati, kita tidak tunduk pada norma-norma kemanusiaan. Karena hati sudah murni dari sananya, budi juga sudah tertanam. Tanpa ikatan, kita sudah menyatu. Sama rasa.

Besok saat kamu tiba, tidak akan ada kata-kata, hanya jemari yang tertaut, mencari ketenangan, teman dan sandaran. Saat itu, kamu tahu, apa yang sudah dibebankan dunia pada anak kecil ini. Tanpa perlu kata. Hanya air mata yang berurai. Mengotori pipi dan hati.

Berikutnya, kamu akan tanya apakah semua baik-baik saja.
Berikutnya, kata-kata meluncur begitu saja.
“Dunia tidak ingat lagi namaku, tidak ada yang memanggilnya seperti dulu. Aku hilang begitu saja.”
“Aku ingat namamu.”
“Aku tahu. Tapi semua akan berubah. Membuatku takut melangkah.”
“Kamu tahu aku akan selalu ingat. Kamu yang begitu. Selalu.”
“Aku tidak mau berubah jadi ibu, kakak, anak, guru, pahlawan atau kekasih.”
“Eja namamu.”
“B-I-R-U.”
“Baik Biru, bagiku kamu adalah Biru. Bukan kekasih, istri, ibu, bukan adik, kakak, koboi atau benalu. Kamu Biru. Berdiri sendiri. Bukan bagian dariku.”
“Cukup batik.”

Seseorang merasa sendirian malam itu. Untuk kesekian kalinya, dia merasa kosong di tengah ocehannya sendiri. Untuk pertama kalinya, dia menyadari. Dari awal dia selalu sendiri. Bersama ocehan. Bersama khayalan. Bersama rekaan.

Pilihan membawanya pada tidak ada pilihan. Pilihan menjatuhkan korban perasaan. Dia, pada dasarnya tidak suka pilihan, karena terasa mengekang dan membatasi. Dia tahu pilihan tidak pernah berpihak padanya. Perasaannya berubah-ubah. Rindunya berganti nama. Dan percikan yang mendesirkan hati, tidak pernah berhenti pada pasang mata yang sama. Hari ini pria yang duduk di samping. Esok hari, pria yang duduk di seberang.
“Anak kecil, kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Besok ketemu ya. Aku duduk di samping kamu lagi.”
“Hmm.”
Sekali lagi hati berdesir. Setiap mendengar suaranya. Melihat wajahnya. Mencari jawaban dari respon singkatnya.
Apa kamu disana juga begitu?
Setiap kita bertemu berdampingan.
Setiap lutut beradu di sudut.
Di atas kursi besi panjang. Di Stasiun Sudimara.
Selamat malam, anak kecil. Semoga besok takdir memilihmu untuk memilihku. Agar, untuk pertama kalinya, rindu punya nama, desiran punya rasa dan khayalan punya wajah. Semoga sepasang mata dan lutut itu selalu begitu. Berdampingan denganku.
“Eja namamu.”
“B-I-R-U.”
“Biru. Akan selalu begitu.”