Mantra Tak Bernama

- April 12, 2017 -

Cerpen oleh Hening
Foto oleh Anggun Priambodo

Kamu pernah sekali memuji namaku. Lima suku kata yang harmonis dan merdu katamu. Kamu kenalkan aku pada pagi. Aromanya sedap seperti nasi uduk. Sinarnya hangat seperti pelukan. Warnanya juga lembut seperti seragam putih abu-abu. Tak ada gemerlap kemilau.

Banyak hal yang kau bagi saat bertemu pertama denganku pagi itu. Kita bertukar sapa. Menanyakan pekerjaan dan mencatat nomor masing-masing. Pagi itu tidak ada yang istimewa tanpa lembaran dua ribuan lecek di saku kantong. Bekal terakhirku untuk menumpang bus. Tidak ada yang teringat selain peluh keringat mengejar bus kota di pagi hari. Tapi lagi-lagi kamu mengenalkan rasa baru. Rindu. Memandangmu dari baris keenam. Membaca mantra agar kau tolehkan wajah sejenak. Memperhatikan sekitar.

Kita bermain tebak nama dari kejauhan. Tapi aku yakin namamu diakhiri huruf konsonan. Tegas tidak menggantung. Jejak. Aku menduga nama itu kependekan dari Jejaka. Tapi sampai sekarang asal namamu masih menjadi misteri. Soal nama, aku memang lebih terbuka. Berasal dari bahasa Sansekerta, merdu dibaca. Dahayu Maja.

Banyak hal lain yang mengundangmu untuk berbicara dan itu bukan soal nama. Katamu, pekerjaanmu berteman dengan angka. Dan kamu paling akrab dengan angka 4. Tanpa alasan tertentu. Angka 4 datang begitu saja menyentuh perasaanmu. Bercakap-cakap soal angka-angka lain. Bahkan menceritakan rahasia bilangan prima padamu. Tapi kamu tidak tertarik dengan rahasia. Ia mengundang perselisihan katamu.

Kebencianmu tampak jelas pada segala sesuatu terkait persembunyian. Meski demikian tetap tidak kau ceritakan tentang namamu.

Terhitung hingga hari ini, tak ada kabar darimu seminggu. Angka-angka yang kau berikan padaku tempo hari, hanya susunan acak angka genap dan ganjil. Tidak terdaftar.

Kenapa kamu main rahasia, saat kamu benci rahasia.

Temui aku di Toko Santai Jatayu di daerah Jakarta Selatan. Itu sepenggal pesan terakhir darimu.

Sebungkus rokok menunggumu di sana dengan sepasang pakaian dalam baru yang siap kulucuti. Jangan takut dengan gang sempit dan gelap, di dalam banyak manusia Jakarta sepertimu, menghuni rumah seukuran kuburan. Hidup bertumpuk-tumpuk. Temui aku di Toko Santai Jatayu.

Langkahku ditemani gonjrengan gitar kuli bangunan, sepulang dari proyek.

Ragu namun perlahan maju mendekat. Begitu kau gambarkan langkah-langkah kecilku. Malam itu kau berharap, menangkap bayanganku di puncak anak tangga.