Morgue Vanguard Menjawab Tentang Grimloc Records

- August 18, 2013 -

Teks: Harlan Boer. Foto: Aditya H. Martodijarjo

Ucokin

Herry Sutresna atau Morgue Vanguard atau dikenal juga sebagai Ucok Homicide saya kirimkan email berisi 10 pertanyaan tentang record label yang didirikannya bersama Gaya “Eyefeelsix” di Bandung, yaitu Grimloc Records. Agak lama juga naskah ini belum kami “naikin” di website MAJALAH COBRA sejak Ucok menjawab pada akhir Juli lalu. Ini dia wawancaranya!

Sebetulnya kapan tepatnya lo mulai mendirikan Grimloc Records? Bersama siapa saja membuat label ini? Dan hal apa yang paling membuat lo memutuskan untuk mendirikan label ini?
Grimloc itu pada intinya saya dan Gaya Eyefeelsix. Namun pada realisasinya, banyak kawan membantu. Jadi Grimloc lebih seperti sebuah proyek yang saya inisiasi dibanding sebuah label rekaman yang dimiliki satu dua orang. Saya ga pernah inget resminya kapan, tapi embrionya sih sejak ngerilis “Illsurrekshun”, album Homicide terakhir tahun 2007. Waktu itu saya dan Gaya yang mengurus segala macam dari mulai pressing, artwork, cetak, distribusi, pre-order dsb. Tapi waktu itu masih pake nama Remains. Setelah Remains jadi toko dan dikelola oleh Okid Gugat, kami merubah namanya jadi Grimloc agar tidak bingung, pas ngerilis album pertama Eyefeelsix tahun 2011 lalu.

Alasan utama mendirikan label? Ya terutama karena kebutuhan untuk merilis album kami sendiri, yang pasti sih. Di kemudian hari bisa ngerilis album-album teman-teman yang kita suka, itu bonusnya. Kami besar dengan punk rock dan Bandung era 90-an, nampaknya mendirikan label sendiri dan mengurus rekaman kalian sendiri itu udah kayak tradisi tersendiri.

Menurut lo, seperti apa sih “seninya” atau “serunya” membuat label pada hari ini? Apa-apa saja yang memberikannya semangat dan juga mungkin kendalanya?
Serunya adalah bisa merilis rekaman kita sendiri. Itu bagian paling penting dan seru. Karena dari situ semua ngalir, kita bisa bikin apapun yang kita inginkan, bukan hanya dalam hal artistik musiknya tapi juga output visual seperti apa bisa kita rilis nanti. Dari artwork sampe tehnik cetak sampe gimik-gimiknya. Kendalanya bagi kami yang bapak-bapak, tentu saja waktu. Manajemen waktu untuk kerja, waktu keluarga, bikin label beginian, dan hal-hal gak penting lainnya seperti nangkring dan senang-senang.

Bagaimana awalnya lo memutuskan untuk mengontrak Eyefeelsix dan SSSLOTHHH untuk merilis musik bersama Grimloc Records? Bisa cerita sedikit tentang bagaimana kalian “bertemu”?
Kita ga pernah ngontrak siapapun, secara resmi. Kita bekerja berdasarkan friendship & trust. Kami gak ada kontrak hitam putih apapun selama ini. Eyefeelsix kita rilis karena memang grupnya Gaya yang juga bagian dari Grimloc, Homicide kami reissue karena dulu grup saya, SSSLOTHHH kami rilis karena keinginan mereka dan Dede gitaris mereka adalah gitaris Trigger Mortis juga, dan tentu saja karena saya fans berat musik mereka. Bahkan dengan artis luar negeri sekalipun, misalkan The Brutalist School, kami gak pake kontrak apapun. Saya berteman lama dengan Hsi Chang Lin, sejak ia masih jadi DJ di grup avantgarde hiphop, Dalek. Ia teman pena saya hampir selama 7-8 tahun lalu. Begitu juga dengan Balcony yang akan kami rilis album reuni mereka dalam format kasetnya. Balcony dudes are our blood brothers, sejak zaman kita dulu tergabung menjalankan Harder Records di akhir 90-an. Ini juga termasuk dalam hal kerja bareng label lain, seperti dengan label kembaran kami, Grieve Records, juga ketika dengan Alternaive, saat membuat kolektif duplicating kaset, Konservatapes. No paperwork, no bullshit. Straight rockin it. Mungkin ini bukan cara menjalankan bisnis yang baik, namun sejauh ini sih kami nyaman dengan cara ini. DIY bagi kami selalu berarti DIWYF, Do It With Your Friends.

Kabarnya setelah “Godzkilla Necronomentry” rilisan Homicide lainnya juga akan di-reissue dalah format piringan hitam. Apa saja sih kendala merilis piringan hitam di Indonesia? Ada trik mengatasinya?
“Godzkilla Necronomentry” sudah kami rilis kemarin. Sudah habis stoknya. Ya betul, kami akan rilis dua E.P Homicide sisanya ke depan nanti. “Barisan Nisan” dan “Illsurrekshun”. Proses remastering udah beres untuk “Barisan Nisan”, semoga gak berlarut-larut dan menyebalkan seperti proses ngerilis “Godzkilla” kemaren. Kendala paling menyebalkan ngerilis vinyl itu adalah prosesnya yang terpaksa harus pressing di luar negeri, terutama soal custom atau bea cukai. Masa mereka bilang vinyl masuk kategori barang mewah? Wong satuannya masih lebih murah dari sepatu Vans bajakan. Sampe sekarang kami gak punya trik khusus selain memang menabung yang cukup untuk mengantisipasi hal-hal diluar dugaan tadi. Untuk cetakan, mungkin ada sedikit, kami kesulitan untuk cari percetakan yang bisa cetak ukuran besar untuk format tertentu, gatefold misalnya. Ngakalinnya ya, agak dirubah format cutting-nya. Sisanya sih, gak ada. Bikin label itu gampang, semua orang bisa. Modalnya passion atas musik yang kalian suka, sisanya ngalir sendiri.

Tagline Grimloc Records adalah “Simply, Bring The Noise Like Its 89”. Mungkin bisa memberi gambaran, seperti apakah 1989 dan mengapa itu menjadi begitu kuat buat lo?
89 adalah tahun milestone dalam pengalaman saya menikmati musik. Bukan saja Public Enemy merilis It Takes A Nation dan lagu ‘Bring The Noise’ populer di era itu, tapi juga beberapa pengalaman personal penting terjadi. Tahun itu seolah merupakan puncaknya menikmati penemuan-penemuan musikal dari tahun-tahun sebelumnya. Dari Minor Threat, Rakim, Chuck Treece, EPMD hingga Slayer. It was really exciting year. Era keemasan hiphop dimulai di sekitar tahun itu.

Grimloc

Tiga (atau mungkin lebih) record label favorit lo?
Dischord Records. Obviously…, Dischord jadi role model totem untuk label rekaman buat saya pribadi, sejak mengenalnya dulu ketika mendapatkan rilisan-rilisan Minor Threat, Fugazi, Government Issue, Void, Bad Brains dan hardcore DC era awal lainnya. Pertama mengenalnya lewat sebuah ad dan membaca interview mereka di sebuah zine. Dischord merupakan contoh paripurna sebuah label yang sukses tanpa mengkompromikan nilai-nilai atau idealisme yang mereka yakini, termasuk bekerja sama dengan distributor atau label major. Mereka hanya merilis band-band DC, scene yang mereka kenal dan mereka berada. Berusaha memperlakukan band yang mereka rilis sebagai rekan satu scene dan seadil mungkin, termasuk berusaha semaksimal mungkin membuat harga rekaman mereka terjangkau. Mereka yang bekerja di label itu, tak banyak jumlahnya, semuanya memiliki band dan bagian dari scene juga. They succeed in putting community values ahead of profit without compromising financial stability. Ketika kami dulu menjalankan Harder Records bersama Febby, Barus, Wale dan lainnya, Dischord adalah salah satu label rujukan kami. Belakangan, rilisan mereka tidak lagi menarik perhatian saya, lebih banyak indie rock dan grup eksperimental rock begituan, meski saya masih suka mencari reissue rilisan hardcore dari katalog lama mereka.

G7 Welcoming Committee
Hampir mirip dengan Dischord dengan skala kesuksesan finansial dibawahnya namun dengan tradisi politis yang lebih kental, namanya diambil dari panitia persiapan demonstrasi besar-besaran menyambut pertemuan kepala negara G-7 di Kanada, dan logo mereka adalah bendera hitam, simbol anarkisme. Meski diprakarsai oleh dua pentolan Propagandhi, label ini label kolektif dan egaliter, tak ada boss atau presdir, jadi lebih mirip koprasi dibanding sebuah record label. Mereka berusaha mempraktekan ekonomi otonomus dalam skala yang paling kecil, lingkungan/scene mereka tanpa harus merubah siapa mereka. They’re punk as fuck. Artis yang mereka rilis antara lain Propagandhi, Submission Hold dan Swallowing Shits yang notabene saya sukai. Hampir semua rilisan mereka politis dengan beragam genre, bahkan mereka merilis rekaman spoken word, Noam Chomsky dan Howard Zinn misalnya, yang notabene bukan untuk mencari keuntungan, meski demikian mereka cukup sukses tanpa harus menjadi Victory Records.

Rhymesayers
Dischord versi hiphop, well paling tidak mendekati. Satu dari sedikit saja label hiphop independen yang passionate dalam merilis rekaman-rekaman mereka, tentunya dengan estetika hiphop era keemasan/90an. Mereka merilis Brother Ali, Micranots, Aesop Rock hingga POS. Merilis rekaman-rekaman yang mereka tertarik saja, namun tetap sukses dalam pengelolaan finansial, tanpa harus mereduksi label jadi tong sampah industri.

Mmm, banyak lagi sih, Havoc Records, Stone Throws, Get On Down dsb.

Rencana ke depan Grimloc Records?
Merilis lebih banyak lagi rekaman. Yang paling konvensional hari ini CD tentunya. Namun kaset akan kami perbanyak, seperti yang saya sebutkan tadi, kami membuat Konservatapes, bekerja sama dengan Alternaive beberapa rekan lain patungan untuk membeli alat reproduksi/duplikasi kaset untuk produktifitas kami. Tak hanya rekaman-rekaman baru dari scene ini, tapi juga edisi arsip dimana kami akan merilis ulang rekaman-rekaman lama yang kami dulu dengarkan dan sekarang sudah sulit dicari, tentunya dalam jumlah terbatas sehubungan dengan terbatasnya modal kami. Proyek-proyek vinyl akan kami teruskan semampunya. Kami ingin mempopulerkan rilisan fisik sebagai tulang punggung scene kembali. Bukan berarti pula kami anti-Mp3 dan music-sharing, hanya saja bagi kami yang besar dengan rilisan fisik, menikmati musik merupakan pengalaman berbeda ketika kalian bisa melihat dan membaca dan mengapresiasi sisi visualnya dan pengalaman yang ditawarkannya untuk berinteraksi sosial di dunia nyata.

Tentang distribusi, rilisan-rilisan Grimloc Records bisa didapat di mana saja?
Kami hanya mengandalkan dua titik untuk penjualan offline, Grieve dan Lawless di Jakarta dan Ommunium di Bandung. Sisanya kami pakai mailorder yang bekerja sama dengan Ommunium. Itu yang kami bisa untuk sekarang. Mungkin ke depannya kami bisa membuka online store sendiri.

Oh ya, dari mana nama Grimloc Records?
Entah darimana, lupa. Its just a cool name yang lewat begitu saja. Hihihi.

Takut ada yang terlewat, bisa disebutkan diskografi Grimloc Records?
Eyefeelsix – Pain Per Hate (CD), The Brutalist School – 1st EP (Kaset), SSSLOTHHH – Phenomenon (CD), Homicide – Godzkilla Necronometry (12″ Vinyl, Reissue). Yang akan kami rilis bulan ini; Eyefeelsix – Illmortality (CD), Balcony – Reunion EP (Kaset). Yang dalam proses produksi proyek kolab saya, Morgue Vanguard/The Brutalist School – Fateh/Kondor Terjaga (7″ Vinyl). Yang dalam rencana akan kami rilis dan sudah kami pastikan masternya dan sedang kami garap ulang artworknya; Undercontrol – st (Kaset) dan Domestik Doktrin – Phundamental Phun (Kaset). Kami juga sedang mengumpulkan materi untuk kompilasi hiphop pertama kami, semoga terealisasikan akhir tahun ini. Its gonna be a hell of busy year. Lotta fun tho.

Ssslothhh dive