Nona, Curi Waktu Untukku

- June 10, 2017 -

Cerpen oleh Hening
Gambar oleh Anggun Priambodo

Seringnya jawaban yang kamu cari tidak ada di dunia ini. Jawaban itu pergi dibawa ke dunia lain.

Dan itu hanya uang, katamu.
Karena uang tidak ada artinya di duniamu, dia datang dan ada begitu saja, tanpa berteman keringat dan air mata.

Terngiang-ngiang kudengar ejekanmu, bermalam-malam kuingat tatapanmu.
Kau panggil dan tatap aku dengan tidak seharusnya.

Kamu harus tahu aku tidak melulu mengalah, aku bisa juga marah. Dan hari ini aku marah karena tatapanmu. Yang tidak pernah tertuju kepadaku. Kamu anggap aku tidak ada. Kamu duduk dan tidak merasa. Padahal itu bangkuku yang kamu duduki. Kamu seperti penjajah hari itu. Cantik tapi tidak terdidik. Kamu rampas hak orang lain.

Aku selalu bingung menghadapi orang-orang sepertimu. Aku tidak takut dengan penjahat. Aku bisa cari bukti dan penjarakan mereka. Aku juga tidak menyerah dengan orang bodoh. Mereka hanya cukup didengar. Tapi orang-orang yang merasa terdidik dan berbentuk manekin sepertimu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengkritik. Karena sebagian besar orang akan lebih percaya pada pendidikan dan kecantikan yang kau miliki. Aku hanya seorang mahasiswa yang seringnya berbatas-batasan dengan imajinasi. Kata mereka, suka melewati batas dan tidak realistis.

Tawamu oh, Nona. Dengan lesung pipit itu. Aku ragu orang-orang akan berpihak padaku. Suara tawamu membawa orang-orang ke dunia baru. Dunia gemerlap penuh orang-orang rupawan sepertimu. Coba tengok alas kakimu. Bersih hanya berlapis selembar debu. Coba tengok wajahku. Berlapis selembar debu, sama seperti sepatumu.

Tahan tawa renyahmu di depan kaumku, Nona. Mereka sensitif. Mereka iri dengan kekayaan, keberuntungan dan nasib yang berpihak padamu. Mereka dangkal sepertiku. Mereka hidup dengan imajinasi. Kamu adalah tokoh imajinasi dalam dunia kami. Berbalut busana halus, berdiri tegak memegang tonggak kuasa. Kakimu kecil, tapi kendaraan yang membawa langkah-langkahmu mampu membangun rumah bagi kami warga sekampung.

“Tapi apalah arti uang buatmu, Nona.”
“Hanya untuk pupur dan parfum.”
“Apalah arti kuasa buatmu, Nona.”
“Hanya untuk mempertahankan bentuk.”

Nona kamu perlu menari dan menyanyi bersama kami. Bakar jagung di depan api unggun dan merasakan sulit sedikit. Nona, curi waktu untukku. Buka pintu hati dan tengok aku di belakang. Sudah terlalu lama kita berdampingan tanpa saling mengenal.