Pameran FOLLOWING 9-21 Februari 2017

- February 10, 2017 -

FOLLOWING
Pembukaan. 8 Februari 2017. 19.00 WIB
Pameran. 9 – 21 Februari 2017. 10.00-19.00 WIB
(waktu istirahat 14.00-15.00)
Gedung A, Galeri Nasional Indonesia

Seniman
Adel Pasha. Adhari Donora. Adityo Pratomo. Andang Kelana. Ari Dina Krestiawan. Ari Satria Darma. Budi Prakosa. Gelar Agryano Soemantri. Gooodit. Mahesa Almeida. MG Pringgotono. oomleo. Ricky ‘Babay’ Janitra

Pasca perayaan yang fisik di masa analog, kuasa dan kontrol teknologi media digital konon telah beralih ke tangan pengguna —>> konsumen —>> atau warga. Istilah pun bergeser, dari konsumen [pasif] kemudian menjadi prosumer [aktif]. Namun keduanya ditempatkan pada posisi yang sama, konsumen. Perbedaannya yang menonjol terdapat pada aksi mengkonsumsi. Jika di masa analog lebih dominan pada tindakan pasif dalam menerima informasi, hari ini pola konsumsi cenderung pada tindakan aktif memproduksi informasi. Atau lebih dikenal sebagai konten, seperti gambar bergerak, foto, bunyi, teks, dan lain sebagainya.

Situasi ini terus digenjot dengan kehadiran peranti lunak [software dan aplikasi] yang memudahkan para konsumen memproduksi konten. Semakin kompatibel peranti keras [hardware atau yang fisik] dengan peranti-peranti lunak terbaru, semakin laku peranti keras itu. Dan semakin mudah cara penggunaan peranti lunak, semakin banyak yang mengunduh, membajak, dan menggunakannya. Namun, peranti keras dan peranti lunak dari teknologi media tidak terlepas dari batas-batas kemampuannya yang telah dikelola sedemikian rupa oleh korporasi produsen teknologi media dan tidak dapat dilampaui oleh pengguna. Contoh sederhana adalah ketika kita menuliskan kata kunci pada mesin pencari google atau youtube, sejarah pencarian yang dilakukan oleh mesin di kanal tersebut terotomatisasi mengarahkan ‘masa depan’ kepada pengguna. Dengan kata lain, pengguna diarahkan pada konstruksi visi yang dikalkulasi oleh mesin. Dari situlah sebenarnya para pengguna mulai dikontrol. Batas antara kuasa dan kontrol yang dimiliki oleh mesin itu sendiri dengan yang diberikan kepada pengguna sebenarnya sangatlah tipis dan cenderung ilusif. Pertarungan visi yang dimediasi oleh konten yang diproduksi oleh pengguna pada akhirnya tidak bisa menerabas garis haluan kuasa dan kontrol yang dimiliki oleh mesin. Jika menerabas, maka dianggap malicious software.

Lalu bagaimana para seniman seni media di Indonesia berhadapan dengan situasi ini? Bagaimana strategi moda produksi dan bahasa rupa yang mereka buat untuk mengatasinya? Pameran Following mencoba menelusuri bagaimana strategi para seniman dan juga karya seni medianya mencoba untuk bermain-main pada situasi tersebut. Bukan untuk melawan keterbatasan yang disediakan itu, tetapi bermain pada celah-celah yang ada di antara batas tipis yang tidak solid itu. Ketigabelas seniman seni media yang terlibat pada pameran ini memiliki pengalaman dan perjalanan yang cukup panjang dalam membongkar batas itu. Terutama dalam mengatasi keterbatasan perihal teknis, si narasi teknologis. Metode, sistem, dan tata bahasa yang dipilih oleh mereka akan dihadirkan dalam beragam bentuk informasi yang telah mengalami proses perubahan kode, baik yang dilakukan sendiri oleh seniman, tim kurator, maupun oleh pengunjung pameran nanti. Pada akhirnya, pameran ini disajikan tidak untuk memperlihatkan kecanggihan teknologi dan atau siasat seniman sebagai kreator saja, tetapi justru menjadi dialog pembuka bagi keberlangsungan negosiasi siasat produksi dan wacana konten antara seniman dengan masyarakat [pengguna dan pengunjung pameran]. OK. Video percaya bahwa proses ulang alik dialog antara seni dan masyarakat tidak akan berhenti dan akan terus berlangsung selama seni itu mau belajar kepada masyarakat, apalagi seni media yang memiliki kosakata yang sangat dekat dengan keseharian.

Pameran Following menyediakan ruang pertarungan, negosiasi, berbagi pengalaman, dan atau mengkritik karya, bagi pengunjung pameran melalui akun instagram @followingexhibition. Ruang ini diharapkan akan menjadi ruang transaksi pengetahuan dalam bentuk; gambar bergerak, foto, bunyi, teks, maupun pertunjukan langsung.

PROGRAM
GALERI NASIONAL INDONESIA

Tur Seniman bersama Mahesa Almeida, MG Pringgotono, oomleo, Adel Pasha
11 Februari 2017, pukul 15.00-17.00
Tur Seniman bersama Ricky ‘Babay’ Janitra, Adityo Pratomo, Andang Kelana, Gelar Agryano Soemantri, Ari Satria Darma
12 Februari 2017, pukul 15.00-17.00
Tur Seniman bersama Adhari Donora, Budi Prakosa, Gooodit, Ari Dina Krestiawan
18 Februari 2017, pukul 15.00-17.00
Program ini akan mengundang seluruh seniman yang terlibat pameran untuk menceritakan pengalamannya membuat karya-karya seni media. Mereka akan membagi pengetahuannya tentang siasat dalam mengeksplorasi teknologi media analog dan digital.

Multimedia Performance
“Missing Data” (Data Performance)
Bangsal, Galeri Nasional Indonesia
18 Februari 2017, pukul 19.00-21.00 WIB
Performance: Adhari Donora, Budi Prakosa, Gooodit, Mahesa Almeida, Adel Pasha, dan Ricky ‘Babay’ Janitra
Pertunjukan multimedia ini akan mencoba membicarakan limitasi sebuah mesin dalam tajuk missing data. Apa yang terjadi jika sebuah informasi [gambar dan bunyi] tidak dibentuk dari data yang utuh? Bagaimana kemudian lajur narasi yang diciptakan dari data-data yang kurang, hilang, korup, maupun disembunyikan, baik dengan sadar maupun tidak.

GUDANG SARINAH EKOSISTEM
Workshop

Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem
19 Februari 2017, pukul 10.00-15.00 WIB
Pemateri: Adhari Donora (Glitch), Andang Kelana (Internet Art), Adityo Pratomo (Pure Data), Ari Satria Darma (Motion Graphic), Budi Prakosa (Arduino dan ATtiny), Mahesa Almeida (Soundscape), dan Ricky ‘Babay’ Janitra (Video Mapping)

Workshop merupakan upaya OK. Video untuk melakukan pemetaan pengetahuan pengelolaan peranti keras dan peranti lunak teknologi media dari para seniman. Workshop ini akan menjadi acuan bagi pengembangan program pendidikan selanjutnya yang akan dilakukan di masa depan. Workshop ini tidak hanya sebagai usaha memperkenalkan seni media di masyarakat atau mendistribusikan pengetahuan teknologi media, tetapi juga sebagai upaya untuk mendorong lahirnya inisiatif-inisiatif generasi baru dalam mengelola teknologi media sebagai salah satu medium seni yang dapat berkembang beriringan dengan perkembangan teknologi di masyarakat.

Diskusi Kultursoftware
Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem
19 Februari 2017, pukul 14.00-17.00 WIB
Pembicara: Andang Kelana, Adityo Pratomo, Ari Dina Krestiawan, Budi Prakosa, dan oomleo
Penanggap: Manshur Zikri (kurator dan kritikus seni media)
Moderator: Aditya Adinegoro (kurator dan akademisi)
Diskusi ini mencoba mendedah tentang bagaimana peranti lunak (software) yang menjadi hal penting pasca perayaan yang fisik di masa analog. Bahwa representasi yang kita lihat hari ini tidak bisa dilepaskan dari kuasa dan kontrol peranti lunak. Lalu bagaimana jika para kreator menerabas garis haluan yang ada di dalam tubuh peranti lunak itu sendiri, apakah hal demikian dikatakan sebagai malware (malicious software) atau memiliki definisi dan makna yang lain.

Peluncuran Tema OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017 + Live Cooking
Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem
19 Februari 2017, pukul 17.00-20.00 WIB
OK. Video akan menyelenggarakan festivalnya yang kedelapan yang berlangsung rentang April-Agustus 2017. Tema yang akan dibicarakan pada perhelatan tahun ini adalah pangan yang menjadi hal dasar bagi kehidupan manusia. Bagaimana kemudian seni media mencoba membicarakan tema ini. Peluncuran tema mencoba membuka percakapan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh seni media terhadap pengembangan pangan di Indonesia khususnya, Asia Tenggara dan global pada umumnya.

::::::::

Kuratorial

Ada lima hal yang kami coba kemukakan dan mencatatnya dari pameran Following;

Pertama, sistem gramatika konten seni media memiliki kesamaan dengan sistem gramatika konten yang diproduksi oleh masyarakat umum, lalu bagaimana karya seni media mampu menghancurkan keberjarakan dengan Pengguna [penonton pameran] namun di saat yang bersamaan juga mampu menjaga keberjarakan yang memberikan sudut pandang bahwa yang sedang dilihat, didengar, dirasakan, dan dimainkan adalah karya seni media yang sedang membicarakan persoalan sosial-masyarakat.

Kedua, bagaimana para seniman seni media di Indonesia menggunakan dan atau menyiasati peranti keras dan peranti lunak yang sama dengan yang digunakan oleh Pengguna dalam memproduksi konten [gambar diam, gambar bergerak, teks, suara, dan lain sebagainya]. Apakah dalam mengelola peranti keras dan peranti lunak para seniman memiliki perbedaan cara mengelolanya [dari produksi hingga distribusi]. Apakah ada teknik-teknik tertentu yang membuatnya berbeda. Jika iya, bagaimana bentuk irisannya dengan yang dilakukan oleh Pengguna. Jika tidak, apa yang harus dilakukan kemudian.

Ketiga, bagaimana perjalanan gagasan artistik dari para seniman seni media yang telah menekuni dan mengamati perkembangan peranti keras dan peranti lunak teknologi media di masyarakat [Pengguna] sebagai biang keladi [alat] produksi informasi. Apakah dengan membuat karya seni media yang mengkritik sistem gramatika teknologi media serta menerabas batas kuasa dan kontrol mesin-mesin teknologi media itu menjadi jalan satu-satunya untuk menciptakan karya seni media yang baik. Seperti kesadaran ketika seni video yang lahir sebagai tanggapan dan kritik terhadap kemunculan teknologi media televisi di masyarakat.

Keempat, bagaimana pandangan pengunjung pameran terhadap karya dan metode yang dipresentasikan oleh tigabelas seniman; Adel Pasha, Adhari Donora, Adityo Pratomo, Andang Kelana, Ari Dina Krestiawan, Ari Satria Darma, Budi Prakosa, Gelar Agryano Soemantri, Gooodit, Mahesa Almeida, MG Pringgotono, oomleo, dan Ricky ‘Babay’ Janitra. Pameran ini mencoba menempatkan aktivasi Pengguna Karya [pengunjung pameran] sebagai sentuhan akhir (final touch) artistik yang menyempurnakan ketigabelas karya dan metode yang dipresentasikan. Aktivasi yang bisa berupa interaksi langsung dengan karya dan atau memproduksi informasi baru yang disebarluaskan baik di dalam ruang pamer dan atau melalui media sosial, diharapkan akan menjadi awal mata rantai siklus baru pengetahuan dari karya-karya itu dan juga wacana seni media di Indonesia.

Kelima, bagaimana proses ulang alik pengetahuan wacana sosial dan wacana teknologis antara yang diproduksi dan berkembang oleh Pengguna [masyarakat] dengan pengetahuan yang direproduksi oleh seniman. Bagaimana pun, seniman seni media tetap menempatkan masyarakat [Pengguna] sebagai sumber kritisnya. Belajar kepada masyarakat menjadi satu-satunya jalan mereduksi agar karya seni media tidak menjadi eksklusif. Siapa yang menginspirasi dan siapa yang terinspirasi menjadi proses ulang alik pertumbuhan pengetahuan bersama.

4 Februari 2017

Mahardika Yudha
Kurator