Penata Rias Didin Syamsudin

- May 20, 2017 -

Wawancara dan foto oleh Anggun Priambodo

Jam dua pagi saat belum bisa tidur, udara dingin, enak suasananya, saat itu saya duduk sambil buka laptop di lobi hotel. Muncul Pak Didin keluar kamar. Ternyata dia juga belum tidur. Kebetulan besok jadwal agak siang untuk mulai shooting. Maka dibuatlah wawancara ini. Meneruskan obrolan di lokasi kalau waktu santai. Selamat membaca.

Perkenalkan diri pak?
Nama lengkap saya Didin Syamsudin, awalnya saya dibawa oleh Lenny Marlena.
Dulu saya pemain, tapi ada petunjuk dari suaminya Lenny, Mas Gatot Teguh Arifianto, saya bagusnya jadi kru film. Saya pernah di Asisten Unit, bagian keuangan.

Tahun berapa pertama diajak?
Umur saya masih 19 tahun, tahun 1972. Mulai make-up tahun 1976, jadi asisten diajak oleh Hari Hendrawan Alm, Film “Perkawinan Dalam Semusim”, sutradara Teguh Karya. Lalu berikutnya filem-film action, drama, sampai sekarang kurang lebih 150 filem perkiraan saja.
Yang berkesan saya dengan filem Suzana adalah Sundel Bolong (1981), sutradara Sisworo Gautama Putra (dia agak lupa) setelah itu Perkawinan Nyi Blorong, Telaga Angker, Ratu Ilmu Hitam,…abis itu apa ya dia jadi orang Bali, yang kembar… apa ya?, Ratu Sakti Calon Arang (1985), itu saya make up-nya.
Yang berkesan ya filem-filem Suzana, saya dengan sutradara Sisworo Gautama Putra bikin film “Jaka Sembung” dengan pemain Barry Prima, Dicky Zulkarnaen, tapi Suzana nggak main disitu, perempuannya Dana Kristina.
Senengnya kalau bikin film dengan Suzana, filemnya selalu laku, dan memang filemnya ditunggu-tunggu di bioskop, pada waktu itu nggak kehitung berapa penontonnya, memuaskan.
Kalau yang silat-silat pertama “Pendekar Kelelawar”, tapi pemainnya nggak terkenal waktu itu, kesininya “Jaka Sembung”, “Ratu Ilmu Hitam”, kesininya yang sekarang itu “Merantau”.
Kalau film dramanya seperti film “Heart” (Starvision, Hani Syahputra), “Ayat-Ayat Cinta” (Hanung).
Pernah juga sama Rano Karno, “Senyummu Adalah Tangismu”, (Dasri Yakub).
Saya pernah juga film “Gitar Tua Oma Irama” (1977). November 1928, Teguh Karya. Daun Diatas Bantal, Garin Nugroho. Paling sering dulu sama Sisworo Gautama Putra, Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), Sundel Bolong (1981), Sangkuriang (1982) Nyi Blorong (1982)
Srigala (1981), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Nyi Ageng Ratu Pemikat (1983), Telaga Angker (1984), Ratu Sakti Calon Arang (1985), Bangunnya Nyi Roro Kidul (1985), Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), Samson dan Delilah (1987), Titisan Dewi Ular (1990). Nawi Ismail, Memble tapi Kece. Wim Umboh, Penganten Remaja 2. Opera Jakarta, Sjuman Djaya. Yang baru-baru, Miror, Dibawah Lindungan Kabah, Hani Sahputra. Nia Dinata, Berbagi Suami. Kalla, Pintu Terlarang, Modus Anomali, Joko Anwar.

Siapa yang dulu seangkatan di penata rias produksi filem?
Yang make up Saur Sepuh itu sudah almarhum juga tuh, Haji Dahlan Harun, itu seangkatan. Lalu Andi Marlan, tapi lupa filem-filemnya judulnya kurang inget, tapi kalau saya disini dia disana.
Sesudah film horror Suzana, filem actin drama, dulu juga pernah, lalu musikal juga dengan alm Chrisye, dengan Iis Sugianto, judulnya “Seindah Rembulan”, sutradaranya Syamsul Fuad, Art-nya El Badrun, dia adiknya Imam Tantowi, penulis skenario.

Apa sih suka duka di filem pak?
Sukanya dulu waktu sekolah SMP, mau ikut piknik ke Bandung, mau ikut piknik ke Jogja, saya mau ijin ke Ibu itu, “Ibu nggak ada duitnya, ibu doain deh nanti juga kealamin bisa kemana-mana“….eh bener… saya bisa kemana-mana, bisa ke Bandung, Jogja, Cirebon, sekarang justru lebih luas, dari mulai Aceh sampai Papua, Kalimantan, Sulawesi, hampir semua provinsi. Dulu sama Bung Sophan Sophiaan, Arini (1987) shooting di Los Angles, terus Malaysia di film “Tirai Perkawinan”, produksi Garuda Filem, sutradanya Alm Abdi Wiyono, pemainnya Lidya Kandouw. Lalu ke Malaysia lagi itu yang judulnya “Mei”. Kalau Arab saya dulu mau bikin “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, mau bikin itu nggak jadi, tapi ternyata jadi dibikin sama MD Entertainment, tapi nggak ke Mekkah, bikin setnya di daerah Subang, Ka’bahnya dibikin di lapangan.
Film “Pengorbanan”, sutingnya di Tuban, Jawa Timur yang mainnya Yati Oktavia, Richa Rachim istrinya. Nah sekarang di Sumba, shooting filmnya Mouly Surya, “Marlina”.

Selain filem gimana?
Saya pernah make-up in Menteri Pariwisaya yang orang Bali, duh saya lupa namanya. Kalau artis penyanyi Iis Sugianto. Kalau acara tv nggak pernah. Saya suka nggak mau kalau make-up-in kawinan, ibu-ibu, banci-banci, nggak suka aja. Saya pernah juga ditodong make-up-in di Gunung Putri, make-up-in tetangga yang mau nikah, kalau nggak ditodong mah nggak diterima juga.
Saya nggak pernah ngajar, tapi saya pernah dapat penghargaan dari UNJ, saya jadi pembimbing. Saya seperti sejajar dengan dosen. Saya nggak duduk dibangku kuliah, tapi bisa jadi pembimbing anak-anak mahasiswa yang mau terjun ke dunia make-up.
Penghargaan film belakang ini, make up terbaik di “Guru Bangsa Cokroaminoto”, Widya gitu. Selama ini nggak ada penghargaan di film, dulu itu penghargaannya ditingkatan art. Kalau Art Director menang berarti yang lain itu menang, tapi make-up nggak disebutin. Tapi kemaren make up disebutin, juga penata rambut, saya syukur alhamdulillah aja ada penghargaan itu. Berarti selama ini saya berkecimpung di film itu ada tingkat-tingkat penghargaannya.
Dulu Pak Teguh Karya itu langganan citra, kalau sekarang ini seperti “Fiksi” yang sutradaranya Mouly, itu saya juga termasuk didalamnya ikut. Saya ikut senang kalau filmnya dapat penghargaan, artinya tidak dapat dilihat sebelah mata, artinya ada kenyataannya, penghargaannya.

*wawancara dengan Mouly Surya