R E S I P R O ( V O ) K A S I PRAKTIK SENI RUPA TERLIBAT DI INDONESIA PASCAREFORMASI

- October 4, 2017 -

Tahun 1985, M. Agus Burhan mencatat sebuah diskusi menarik antara S. Sudjojono, Srihadi Soedarsono, Sanento Yuliman, Soedarso SP, FX Harsono, Gendut Riyanto dan peserta Sarasehan Seni Rupa ’85 di Sasana Mulya, Gedung ASKI Surakarta. Tulisan bertajuk “Situasi Seni Rupa Kita dan Seni Rupa Terlibat” tersebut mendedah hasil diskusi dari tiga acuan masalah: citra keindonesiaan seni rupa kita sekarang, dominasi nilai dan orientasi nilai dalam seni rupa kita sekarang, dan masalah lingkungan sosial sebagai masalah seni rupa kita sekarang. Pada pembahasan topik ketiga, S. Sudjojono bernostalgia mengenai aktifnya PERSAGI terlibat dalam revolusi fisik maupun melalui karya kemudian disambut oleh FX Harsono dan Gendut Riyanto yang lantang menyuarakan pemikiran-pemikiran Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), mengkritisi karya-karya yang cenderung mengacu pada sikap dan nilai individual. Bagi mereka, kesadaran atas keterlibatan sosial, interaksi aktif-komunikatif, dan relasi obyek-seniman-penonton yang egaliter merupakan hal yang lebih penting diupayakan dibandingkan dengan usaha pemenuhan kepuasan individual saja.

GSRBI, setelah pameran pertamanya yang provokatif mengkritisi rezim estetika orde baru pada tahun 1975, menawarkan bentuk keterlibatan publik lewat salah satu dari ‘5 jurus gebrakan GSRBI’ yang tertuang pada manifestonya di tahun 1979, yaitu keinginan akan seni rupa yang bertalian erat dengan lingkungan masyarakatnya, seni rupa yang “wajar, berguna, dan hidup meluas di kalangan masyarakat”. Gagasan ini disambut oleh seniman-seniman muda tahun 1980an —kemudian periode ini diberi istilah ‘seni rupa pasca pemberontakan’ oleh Yustiono, atau ‘seni rupa pascamodern’ oleh Jim Supangkat pada kuratorial Biennale Jakarta IX 1993— yang mulai bereksperimentasi lintas medium, memadukan objek visual dengan ruang, bunyi, tubuh, keluar dari ruang-ruang pameran. Mereka diantaranya adalah Kelompok PIPA dengan gagasannya mengenai seni rupa lingkungan, Moelyono melalui seni rupa penyadaran, juga Isa Perkasa, Tisna Sanjaya dan Arahmaiani (Kelompok Sumber Waras) dengan Perengkel Jahe-nya yang berupa aktivitas seni rupa keluar kampus dan galeri di tahun 1980-an, serta peristiwa Binal Jogja di tahun 1992 yang muncul sebagai anti-tesis Biennal Jogja. Sanento Yuliman menyebut ciri praktik seni rupa periode ini sebagai gejala pluralisme estetik: sikap dan pandangan yang mengakui bermacam ragam seni rupa dengan tata acuan yang berbeda-beda.

Peristiwa Reformasi 1998 secara politis dan sosial memantik terjadinya ledakan demokrasi yang dirayakan dengan berkembangnya pemikiran progresif, kebebasan berekspresi, berkumpul, berdiskusi dan berserikat. Pengaruhnya dalam dunia seni rupa dapat kita rasakan melalui munculnya beragam gejala praktik seni rupa alternatif, eksplorasi media baru, kerja kolektif, dan inisiatif mandiri untuk berkarya dan berekspresi diluar institusi seni rupa. Kecenderungan ke arah seni rupa terlibat yang marak dipraktikkan perupa angkatan 1980-an kembali hidup menggantikan bulan madu panjang booming seni lukis sejak awal 1990-an. Runtuhnya rezim Orde Baru sebagai ‘musuh utama’ seniman dirayakan dengan beragam ekspresi dan bahasa-bahasa rupa baru yang cenderung ringan, meninggalkan gaya subversif, mengelaborasi isu-isu yang relevan dengan realitas keseharian. Periode ini ditandai juga dengan berlanjutnya gejala internasionalisasi perupa Indonesia di jejaring seni rupa regional Asia Tenggara dan Asia Pasifik maupun global sebagai efek pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Resipro(vo)kasi dapat dimaknai sebagai “resiprokasi dan provokasi” ataupun “provokasi resiprokal”, yaitu metode komunikasi dan pertukaran gagasan dua arah secara egaliter antara perupa dan publik yang berrelasi langsung dalam proses penciptaan karya/peristiwa seni rupa, —disadari atau tidak— seolah saling memprovokasi satu sama lain. Munculnya kesadaran perupa pada upaya pelibatan publik atau melibatkan dirinya dengan publik dalam proses kreatifnya itu sendiri bermula dari penolakan terhadap elitisme seni rupa, pengkultusan profesi seniman oleh publik, dan keterasingan yang dibangun antara objek seni rupa dan pengunjung di ruang galeri/museum. Eksperimentasi kreatif melibatkan publik secara langsung merupakan salah satu upaya spekulatif memutus keberjarakan ini, meskipun hasilnya bisa jadi justru memunculkan keterasingan baru.

Pameran ini bermaksud merepresentasikan kecenderungan praktik seni rupa terlibat dalam kurun waktu pascareformasi hingga sekarang sebagai praktik penciptaan karya ‘alternatif’ dari dominasi karya individual berbasis studio. Spektrum praktik seni rupa terlibat yang dimaksud pendekatannya erat dikaitkan dengan peristilahan dalam wacana seni rupa Barat seperti seni rupa relasional, seni rupa dan praktik sosial, seni rupa interaktif, aktivisme seni rupa, seni rupa berbasis komunitas, dan lain sebagainya.

Keberagaman pendekatan seni rupa terlibat dan konteks sosial yang dipilih perupa dapat kita saksikan pada Moelyono dan Vincent Rumahloine misalnya, yang praktiknya erat dengan konteks aktivisme seni rupa dalam komunitas. Sedangkan Fajar Abadi dan Alfiah Rahdini kecenderungannya lebih ke arah pendekatan seni rupa relasional yang menonjolkan pertemuan intersubjektif antara perupa dan publiknya. Dalam kondisi keterbatasan, Angki Purbandono menggagas proyek Prison Art Programs (PAPs) dengan melibatkan rekan sesama tahanan dan petugas Lembaga Pemasyaraktan berkolaborasi mengerjakan karya seni rupa di dalam tahanan. Eksperimentasi lainnya dapat kita lihat pada karya fotografi Wimo Ambala Bayang dan performans Elia Nurvista, yang bekerja melibatkan komunitas dalam konteks residensi di Rumah Seni Cemeti dan peserta Biennal Jogja. Pendekatan berbeda dipilih Irwan Ahmett yang berupaya merefleksikan dan memaknai ulang film G30S PKI karya Arifin C. Noer melalui penuturan Subarkah Hadisarjana, salah satu make up artist film tersebut. Sedangkan dua kolektif perupa, Jatiwangi Art Factory dan Cut and Rescue merepresentasikan praktik-praktik seni rupa terlibat dalam konteks pedesaan dan perkotaan.

Pameran ini merupakan salah satu upaya untuk memperkaya pembacaan atas fenomena praktik seni rupa kontemporer di Indonesia. Melalui gagasan-gagasan yang ditawarkan perupa dalam beragam konteks sosialnya, diharapakan pameran ini mampu memberikan gambaran umum sejauh mana perupa merespon kondisi sekitarnya, memantik pemikiran kritis publik atas problem-problem sosial kontemporer serta memberikan perspektif yang berbeda dalam memaknai praktik penciptaan karya berbasis proses dan peristiwa sebagai alternatif pengalaman artistik bagi perupa dan pengalaman estetik bagi publik. ***

Bayu Genia Krishbie
Kurator