She Wants All the Money in the World

- September 7, 2017 -

Cerita oleh Hening
Gambar oleh Anggun Priambodo

Namanya Putri, indah seperti wajahnya, molek seperti tubuhnya. Dia tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan paling cantik di keluarganya. Dia tumpuan, harapan, pengemban nama baik keluarga.

Sepanjang masa kanak-kanak dan remaja yang sempurna, Putri selalu dihujani pujian, kasih sayang dan doa-doa baik. Hidupnya bahagia dan tercukupi. Dia menikah dengan pria tampan juga mapan. Dia melahirkan sepasang putra-putri yang sempurna. Bahagia di dunia, adalah doa yang terkabul bagi Putri.

Tidak seorang pun pernah meragukan kemampuan Putri. Perilakunya, tutur katanya, tidak pernah salah, tidak pernah membawa petaka bagi keluarga. Intelejensia dan kebijaksanaan melengkapi itu semua. Karena itu, Putri dipercaya memimpin perusahaan keluarga. Semua lancar tanpa tantangan. Doanya kembali terkabul. Dia percaya Tuhan di sisinya, setia mengabulkan doa-doa.

Selain Tuhan, keluarga dan kekayaan, dia tidak terlalu akrab dengan banyak hal. Terutama kemiskinan. Dia tidak mendengar gosip mandor-mandor pabrik yang setiap bulan memotong upah buruh atau perempuan-perempuan yang mengiba dipekerjakan atau sekedar dipertahankan pabrik demi menyambung hidup. Cerita-cerita seperti itu tidak pernah sampai ke telinga Putri. Dia Putri dari kerajaan. Hidupnya diakhiri dengan kebahagiaan.

Mungkin hari itu Tuhan lupa mengutus malaikat untuk menyortir berita-berita yang patut didengar Putri atau Tuhan mungkin ingin memberi Putri satu ujian hidup. Putri mendengar salah satu buruh berulah.

Buruh itu seorang perempuan bernama Ayu.

Ayu sepertinya selamanya akan dikenal sebagai dalang kerusuhan oleh Putri. Dia menghimpun buruh-buruh perempuan dan berdemo di depan gerbang pabrik. Pagi itu, Putri tertahan di luar gerbang. Mobilnya tidak dapat melewati kerumunan manusia dengan spanduk lebar-lebar bertuliskan. Boikot Perusahaan!

Jantung Putri dibuat dag-dig-dug seketika. Perasaan ini tidak seperti saat melahirkan atau dipinang calon suami. Jantung Putri hampir copot. Degupnya mengirimkan sinyal amarah ke hati dan pikiran. Hanya binatang yang memilih cara ribut dan tidak elegan seperti ini, demikian gumam Putri. Dia tidak salah. Dia hanya tidak paham bahwa manusia bisa ambil jalan apapun untuk mengisi perut.

Hari itu, dia panggil manajer personalia dan mandor-mandor terkait kasus buruh perempuan. Kupingnya panas mendengar laporan mereka. Tidak tahu diuntung. Bagaimana bisa seorang perempuan bernama Ayu menghancurkan reputasi perusahaan yang dibangun kakeknya berpuluh-puluh tahun lalu. Putri sedih teringat mendiang kakek, mendiang bapak yang susah payah membanting tulang demi keluarga. Perusahaan keluarganya sekarang tercoreng. Media berbondong-bondong meliput. Tanpa belas kasihan menulis judul dengan huruf kapital: PT JAYABAYA TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN, media lain menulis JAYABAYA MENGINJAK-INJAK HARGA DIRI PEREMPUAN.

Sebagai perempuan sekaligus manusia mulia, Putri merasa harga dirinya dan leluhurnya diinjak-injak. Hanya karena ulah seorang manusia tidak tahu diuntung, Ayu. Pada detik-detik genting demikian, di mana amarah menguasai akal sehat, Putri lupa berdoa. Mata hatinya tertutup. Embel-embel sebagai wanita bijaksana dan berpendidikan terkalahkan oleh sakit hati yang tidak terperikan karena merasa direndahkan, merasa kerja kerasnya tidak dihargai. Alih-alih memperbaiki keadaan dan duduk bersama membahas isu yang sedang panas. Putri memanggil Ayu dan sejumlah oknum buruh perempuan.

Di sisi lain, Ayu merasa terhormat diundang berbicara langsung dengan petinggi perusahaan. Dia merasa didengar. Dengan semangat juang dan rasa hormat, dia dan teman-teman memakai pakaian terbaik yang mereka miliki, menyediakan waktu lebih awal untuk memenuhi panggilan Putri sang petinggi.

Janji kadang terlalu naif, harapan kadang diinjak-injak mereka yang tidak berhak.
Begitulah skenario hari itu.

Putri membacakan A-Z apa yang Perusahaan telah lakukan bagi karyawan dan bagaimana seharusnya karyawan berterima kasih atas semua itu. Di sela-sela waktu, Putri bertanya, namun menjawabnya sendiri. Ayu dan teman-teman dibungkam dengan jawaban-jawaban sepihak Putri.

Putri kehilangan kebijaksanaan. Putri kehilangan kesabaran.

Sebaliknya, Ayu belajar dari kesalahan. Bahwasanya langka manusia menjadi bijaksana, apabila uang yang menjadi taruhan. Cerita manusia bijaksana, seperti biasa, hanya ada di film-film koboi dan gangster. Sementara Putri terlalu indah untuk menjadi bagian dari dua cerita itu. Di dunianya, dia mulia. Dipikirnya, dia mulia.