SISIR TANAH

- February 16, 2017 -

Setelah tujuh tahun bermusik dari panggung pentas seni hingga panggung diskusi isu kemanusiaan, akhirnya Sisir Tanah masuk ke dapur rekaman. Sisir Tanah, proyek solo Bagus Dwi Danto, selama ini memang lebih berfokus menyebarkan lagu-lagunya di berbagai panggung, ketimbang mengemasnya dalam bentuk album.

Bagi sebagian kalangan di dunia musik, album masih dianggap sebagai penanda sah bagi seorang musisi. Sedangkan bagi Sisir Tanah, jika akhirnya menelurkan album, album bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk kian menabalkan keyakinan untuk terus berkarya dan berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, pula pengingat agar konsisten pada pilihan-pilihan yang sudah diambil.

Pada akhir tahun 2016, Sisir Tanah akhirnya bersepakat untuk membuat album dengan diproduseri lembaga kajian musik yang berbasis di Yogyakarta, bernama LARAS – Studies of Music in Society. LARAS, kelompok studi yang terdiri atas Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik, sejak tahun 2014 banyak menyelenggarakan diskusi, penelitian, dan penerbitan tulisan terkait tema musik dalam masyarakat. Mulai tahun 2017, LARAS tertarik memperluas batasan kerjanya dengan memproduksi dan mendistribusikan karya-karya musik yang menyuarakan isu-isu kemasyarakatan.

Awal Februari 2017 ini, Sisir Tanah mengaransemen ulang dan merekam 11 lagu di Studio Kua Etnika, bersama dengan sejumlah musisi dari Yogyakarta. Dengan arahan dari Doni Kurniawan (Alldint, Risky Summerbee and the Honeythief, Music For Everyone), musisi-musisi yang terlibat meliputi Ragipta Utama (Jati Raga), Nadya Hatta (Individual Life), Faizal Aditya Rachman (Answer Sheet), Indra Agung Hanifah (Jalan Pulang), Asrie Tresnady (Log Sanskrit), Yussan Ahmad Fauzi (Log Sanskrit), Erson Padapiran (Belkastrelka), Justitias Jelita Zulkarnain (Benzai Quartet), dan Jasmine Alvinia Savitri.

Aransemen-aransemen baru dengan musisi-musisi ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi artistik lagu-lagu Sisir Tanah, seperti Kita Mungkin, Lagu Hidup, dan Konservasi Konflik, dalam menyampaikan gagasan-gagasan kemanusiaan Bagus Dwi Danto.

Album ini rencananya akan dirilis pada akhir Maret 2017 dalam wujud cakram padat.

Salam sejahtera!

Profil
Sisir Tanah adalah proyek musik asal Bantul yang didirikan pada 2010. Nama Sisir Tanah diambil dari nama perkakas pertanian yang biasa dipakai untuk mengolah tanah, yakni garu. Bagi petani, garu berfungsi menghancurkan bongkahan tanah dan menggemburkannya sebelum ditanami. Sisir Tanah adalah padanan bahasa Indonesia untuk garu.

Lirik lagu Sisir Tanah berawal dari catatan-catatan yang ditulis oleh Bagus Dwi Danto. Setiap catatan adalah perasaan-perasaan yang tersusun dari berbagai watak. Ada optimisme, sarkasme, humor, kegembiraan, kekecewaan, juga kemarahan. Sejumlah lagu bicara soal-soal personal, beberapa lainnya berisi kritik sosial.

Sisir Tanah memainkan musik dengan cara sederhana, bernyanyi dengan iringan gitar bolong, atau sesekali bersama tiupan harmonika. Kesederhanaan juga memungkinkan Sisir Tanah berkolaborasi dengan siapapun.

Diskografi
– Green in Peace Compilation “Indonesia adalah Pertiwi” (Greenpeace, 2014). Judul lagu: Bebal
– Album kompilasi “Papua Itu Kita” (Papua Itu Kita, 2015). Judul lagu: Lagu Hidup
– Album “Dunia Milik Kita” (Paduan Suara Dialita, 2016). Judul lagu: Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu, Padi untuk India, Viva Ganefo
– Album kompilasi “1500 Kalori” (Kampung Halaman, 2017). Judul lagu: Lagu Damai
– Debut Album ( segera di 2017)

Informasi :
Fani : +62 878 3847 8978
Email : sisirtanah@gmail.com
www.facebook.com/sisirtanah
www.souncloud.com/sisirtanah
www.instagram.com/sisirtanah
#sisirtanah