SPEKTAKULER SENYAWA

- December 28, 2016 -

Tulisan & foto oleh Keke Tumbuan

senyawa_3

Keajaiban yang diciptakan oleh duo musisi dari Yogyakarta ini tidak hanya sebatas kejeniusan mereka dalam berkarya dengan gelombang sonik saja, tapi juga terlihat dalam beberapa aspek sepanjang penjelajahan mereka sebagai Senyawa.

Terus terang baru sewaktu Senyawa mengadakan show di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 22 Desember 2016 lalu, Konser Tanah + Air
yang diadakan oleh G Production, saya bisa sepuasnya nonton pertunjukkan live mereka di hadapan mata. Karena sebelumnya, biarpun sudah nge-fans sejak lama, baru satu kali saya melihat penampilan live mereka langsung di Borneo bar (Kemang, Jakarta) tahun lalu, itupun sudah saat paling akhir pertunjukkan! Tapi disitulah sebuah aspek ‘keajaiban’ Senyawa bisa ditemukan, karena dengan mudahnya kita dapat menonton pertunjukkan live yang mereka adakan hampir di seluruh pelosok dunia secara on-line. Maksud saya, ajaibnya adalah, biarpun Senyawa sudah diundang untuk manggung di berbagai negara luar selama ini, dan ditampilkan sebagai main act di banyak festival musik terkenal dimana-mana, tapi tak ada satu-kalipun nama mereka muncul sebagai headliner festival musik di Indonesia! Biarpun dengan mudahnya penampilan super agung mereka, dengan kekuatan sonik yang mereka hadirkan dan tampilan yang mereka berikan dengan gaya masing-masing, bisa masuk di genre festival mana saja; ajaibnya sampai saat ini saya tidak pernah melihat nama mereka di promo-promo festival besar yang diadakan di Tanah Air, apakah itu festival jazz, festival metal, festival musik tradisional, atau festival-festival lainnya! Sementara begitu banyak band baru yang langsung melejit dan berkat dorongan serta support dari dunia musik lokal langsung bisa menggelar konser tunggal mereka, band sekelas Senyawa – setelah eksis sejak 2010 dengan keindahan avant-garde yang dibawakannya – baru akhir tahun ini melihat kemungkinan untuk menggelar konser tunggal. Ajaib memang, bagaimana kita telah diberikan batu permata sebesar ini secara langsung, tapi masih terus berusaha mencari harta karun di kejauhan untuk mendapatkan pengakuan.

Dua anggota Senyawa, Rully Shabara (teknisi vokal) dan Wukir Suryadi (arsitek instrumen), juga aktif dalam kesibukan berseni masing-masing. Rully, yang saya curigai telah menelan alat efek ketika masih bayi sehingga kini bisa mengeluarkan bunyi-bunyian menghipnotis secara alamiah, belakangan ini sempat diundang ke beberapa negara luar untuk menyampaikan workshop paduan suara eksperimental berbasis improvisasi dari beragam suara manusia sehari-hari yang dinamakannya Raung Jagad (http://rrrec.ruangrupa.org/2016/en/the-roar-of-the-universe-workshop/). ‘Keisengan-keisengan’ berguna dan mengagumkan semacam itulah yang dilakukannya dengan talenta luar biasanya diluar bekerja sama dengan musisi-musisi lain. Rully juga merupakan frontman sebuah band super keren bernama Zoo, yang seperti kepribadian dirinya maupun karakter dari Senyawa, juga menghadirkan nuansa genre crossover antara agresi musik kontemporer dan keanggunan musik tradisional.

Kejadian saat Rully bertemu Wukir lalu menonton kebolehan masing-masing untuk akhirnya melahirkan ide merancang pembentukan dari Senyawa adalah salah satu momen di masa lalu yang, bila sudah ada mesin waktu nanti, seperti sebuah keharusan bagi saya untuk menyaksikannya. Wukir, seperti rekan ber-Senyawa-nya, juga telah banyak berkeliling membawa kehebatan artistiknya kemana-mana. Dia seperti seorang manusia bertenaga gaib yang super power-nya adalah kebolehan menciptakan alat-alat musik spektakuler dari bahan alami. Atau semacam McGyver etnik. Merakit alat musik berkemampuan mutakhir dari bambu dan bahan alami lainnya adalah satu hal yang perlu diakui, namun kesempurnaan melodi dinamis yang diciptakannya dengan memainkan alat-alat rakitannya tersebut sudah menembus batas jenius. Tapi ajaibnya, dengan bakat setingkat musisi-musisi jenius dunia yang biasanya berkepribadian ekstravagan, Wukir adalah sosok seorang teman yang – sebatas pengetahuan saya – sederhana dan sangat manis. Begitupula Rully, yang sebagai teman sangat ‘cowok’ dan jenaka seperti banyak teman pria lain. Tapi sewaktu mereka tampil sebagai Senyawa, yang kita saksikan adalah dua karakter megah yang berkekuatan super. Ajaib!

Bila mendengarkan Senyawa, saya kadang berkhayal sedang meneguk Ayahuasca (yang dalam khayalan rasanya kayak wine) sambil secara rileks berbincang-bincang tentang peradaban purba yang super pintar dengan sebuah wujud spiritual setengah kuda setengah wanita anggun, sambil nyemil rambutan. Begitu kuatnya gelombang melodi yang dipancarkan Senyawa merasuki badan pendengarnya, sampai kadang kita seakan dibawa mereka ke alam lain, sebuah alam dimana musik bukan hanya ketukan ritme dan melodi yang bisa dihafalkan, tapi berupa suara-suara natural yang ditekankan dengan alunan penyampaian kata-kata diiringi oleh improvisasi ekspresi jiwa yang menyatu dengan alat musik rakitan tangan. Jadi memang sebuah keajaiban lagi bahwa duo yang ditulis sebagai band yang “Terlalu bagus untuk diabaikan…” oleh Electronic Beats (13 April 2015); “Salah satu band live paling intens di seluruh dunia” oleh Red Bull Music Academy Daily (13 Maret 2015); dan album mereka “Menjadi” (Morphine LP, 2015) digambarkan dengan kalimat “Sebuah pengalaman yang tak terlupakan” oleh The Wire Magazine (2015) ini, tidak pernah ditampilkan profilnya selama ini di majalah-majalah besar Tanah Air, ataupun di TV.

Pengalaman ajaib pribadi yang saya alami ketika menonton konser Senyawa kemarin di GKJ adalah diserangnya saya dengan keram perut bulanan sewaktu dalam perjalanan ke gedung konser. Tapi pas Senyawa mulai main, seketika sakit saya hilang entah kemana. Lalu nyebelinnya, sewaktu break istirahat, datang lagilah keram keparat itu. Namun sekali lagi sembuh waktu bagian kedua performa Senyawa sedang berlangsung. Sampai saya sok ke belakang panggung dan nonton dari dekat, untuk benar-benar menyembuhkan keram perut itu. Sayangnya, sewaktu berakhirnya pertunjukkan prima duo musisi yang pada waktu itu berlaku sebagai duo Shaman bagi kesakitan saya, mulai lagi terasa keram jahanam tersebut. Mungkin jiwa saya sedang berkomunikasi, menasehatkan supaya saya harus lebih banyak mengkonsumsi Senyawa. Sebaiknya seluruh peminat musik di Tanah Air juga melakukan hal yang sama.

senyawa_2
senyawa_4
senyawa_7
senyawa_6
senyawa_1