Suara-suara Asia Tenggara

- November 22, 2011 -

Oleh: David Tarigan

Saya pikir semua ini dimulai sejak pengalaman pertama saya dengan musik pop Asia Tenggara non Indonesia. Bukan, bukan Search atau Sheila Majid, ataupun Jose Mari Chan dan Maribeth. Bukan pula Asia Bagus. Saya tak merasa berhutang budi kepada para kontestan dan sang host Najip Ali. Walaupun kami pernah melakukan pertemuan muka di lantai dasar gedung yang dulu terdapat toko rekaman besar berusia pendek, Tower Records, di Scotts Road, Singapura, dalam ritual tahun ’90-an saya sebagai penggila musik asal Indonesia, menyerbu negeri tetangga tersebut untuk seleksi cd dan t-shirt rock-nya. Saya tidak menganggap itu semua sebagai sebuah ‘pertemuan’, atau sebuah pengalaman.

Pengalaman sejati terjadi ketika sebuah majalah lokal Singapura yang cukup hip bernama BigO (kini menjadi majalah online) menyita perhatian saya karena menampilkan citra sebuah band berwajah Asia dengan gaya layaknya band terkeren dari Britania Raya. Mereka memiliki rambut yang menutupi mata, tatapan datar layaknya anak muda banyak masalah, sebagian berkaca mata hitam, dingin, agak kelam, walaupun ternyata berasal dari negeri super terik yang bersahabat erat dengan garis khatulistiwa. Hari itu saya menemukan the Pagans. Sebuah band shoegaze Singapura yang baru saja merilis album debut berjudul Stereokineticspiraldreams lewat sebuah label rekaman kecil lokal yang bernama Tim. Saat itu tahun 1993 dan saya cukup terkesima dengan fakta tentang keberadaan sebuah band Asia Tenggara yang merilis album penuh dengan sound bawah tanah terkini yang super keren. Betapa up to date-nya mereka. The Pagans langsung menjadi inspirasi yang lebih nyaman bagi saya dan teman-teman SMA setongkrongan yang lebih dulu familiar dengan tekstur suara serupa dari band-band seperti Ride, My Bloody Valentine atau Swervedriver. Kami lantas membatin, kenapa di Indonesia tidak ada band yang merilis musik sekeren itu?

Beberapa bulan kemudian saya menemukan sebuah band asal Bandung, yang ternyata bernama PAS, melalui sebuah wawancara on the air di radio SK. Terdengar mereka sedang promo, entah apa promonya saya lupa, mungkin mini album debut mereka, tapi yang pasti mereka sempat tampil live secara akustik dan terdengar seperti adik tiri Melayu dari Pearl Jam yang saat itu makin nggak keren. Ok, mungkin saya terlalu banyak protes. Tetapi wajar bila melihat begitu banyak band Indonesia dengan sound baru yang segar saat itu tetapi yang terdengar cuma Eddie Vedder-Eddie Vedder Melayu. Sementara di negeri tetangga punya band seperti the Pagans. Apalagi saat itu beberapa sahabat saya menemukan dan membeli cd dan kaset album Stereokineticspiraldreams di toko rekaman lokal, Duta Suara Sabang. The Pagans dijual di Indonesia. Saya semakin kesal. Untung lalu ada kompilasi Masa Indah Sekali Pisan rilisan 40.1.24 (yang masih berhubungan dengan PAS) yang cukup bisa menghilangkan dahaga saya akan rekaman ‘suara baru’ Indonesia. Dari pop Cherry Bombshell lewat ska ruang tunggu Waiting Room hingga agresi hardcore Puppen. Sampler yang dengan bangganya saya bawa dan siarkan.

Di Singapura saya mendapatkannya pada cd-cd gratisan dari majalah BigO hasil kerjasamanya dengan Levi’s. Mereka membuat program BigO Singles Club (nama yang terinspirasi oleh Sub Pop Singles Club tampaknya) yang membagikan gratis sebuah cd yang berisikan tiga lagu dari tiga talenta lokal Singapura dengan sound ‘alternatif’ pada tiap edisi majalahnya. Saya terinspirasi langsung olehnya ketika masih membidani majalah Ripple, menyertakan kaset sampler berisikan band-band tergres dari bawah tanah Bandung-Jakarta pada edisi-edisi awalnya. Dari seluruh cd BigO Singles Club favorit saya adalah yang nomor 3 karena tampilnya track hebat “Spacemen Over Malaysia” dari band bernama Force Vomit. Mereka menggabungkan pengaruh pahlawan saya, Jonathan Richman, bersama polah Melayu mereka, dengan sound dan sensibilitas indie-rock yang mereka gauli sejak masa puber. Formula idola harapan bule-bule penggemar musik dunia ketiga. Bagi saya “Spacemen” merupakan salah satu lagu terbaik yang pernah dihasilkan oleh negeri Singa tersebut. Selanjutnya saya juga menikmati album mereka yang berjudul Give It Up for the Trustfund Rockers dengan lagu kuat mereka yang lain, “Siti”.
Di tahun yang sama dengan Singles Club, 1996, adik saya membeli sebuah cd kompilasi indie Singapura yang bertitelkan Flush After Use setelah mendengarkannya di listening station Tower Records. Dia hanya menyukai band dengan suara vokal wanita, sudah pasti membelinya karena irama indie pop Sideshow Judy dengan suara madu vokalisnya, Pauline Chong. Seperti Masa Indah, kompilasi ini juga eklektik, dengan berbagai irama cutting-edge seperti hardcore-nya 4 Sides, grunge-nya Dog’s Nation, hingga pop dari Seberynic. Dirilis oleh label kecil bernama Cheapskate, kompilasi ini lumayan memberi gambaran scene Singapura di era alternative rock.

Ada beberapa rekaman band indie Singapura yang bisa didapatkan di toko-toko rekaman di Indonesia gara-gara distribusi Pony Canyon. Tahun 1994 kita kedapatan rilisan-rilisan dari Humpback Oak, the Oddfellows, dan favorit saya, the Padres dengan EP-nya What’s Your Story dan single jangly nan romantis, “Joni”. The Padres merupakan kendaraan baru dari Joe Ng, scenester sejati yang telah berkiprah sejak masih bersama duo elektronik kelamnya, Corporate Toil, di pertengahan ’80-an. EP tersebut konon begitu dinantikan oleh anak-anak muda, scenester Singapura karena berisikan tokoh-tokoh sirkuit indie kota tersebut. Gonta-ganti pula isinya. Kalau di Indonesia ’70-an mungkin seperti God Bless, personilnya keluar masuk seputar perkawanan band, tokoh-tokoh scene.

MTV Asia membawa wabah indie-rock Pinoy ke Indonesia. Diujung tombaki oleh band yang sampai kapanpun akan saya terima dengan hangat, Eraserheads. Saya terhantam babak belur oleh single Beatlesque mereka yang berjudul “Fruitcake”. Lagu pop yang hebat, penuh sihir melodi. Kemudian teman SMA saya yang kuliah di Manila mengirimkan saya kaset album rilisan lokalnya, Cutterpillow. Saya pun semakin jatuh cinta. Ini indie-rock dengan pengaruh kental musik ’60-an kesukaan saya yang lalu dinyanyikan dengan bahasa Tagalog. Saya biasanya sulit menerima lagu-lagu pop berbahasa Tagalog atau Thai karena selalu terbayang pop daerah picisan di angkot pedalaman Sumatera. Ini beda. Ini terdengar sublim, walaupun saya tak tahu apa artinya, persetan. Coba dengarkan mulai dari yang menjadi terkenal akibat ulah MTV seperti “Ang Huling el Bimbo” hingga “Huwag Monang Itanong sa Akin”. Bagi saya urutannya begini: the Kinks, Blur, lalu… Eraserheads.

Teman saya tersebut juga menghadiahi box set 4 cd kompilasi band-band ‘suara baru’ Filipina seperti RiverMaya dan lainnya. Bagi saya tetap E-Heads yang terkeren. MTV juga bertanggung jawab atas kehadiran album Aloha Milkyway edisi Asia di Indonesia. Buat saya itu representasi yang mengecewakan buat Ely Buendia dkk. Hanya “Ang Huling” lagu berbahasa Tagalog yang ada di dalam album, sisanya berbahasa Inggris. Ok, album tersebut memang untuk proyek pengenalan ke khalayak ramai, internasional. Tetapi anda pasti sedih ketika berbagi sesuatu yang anda tahu tidak maksimal dengan orang lain. Segera cari rilisan-rilisan lokal E-Heads, kita punya internet.

(bersambung)

link: http://theory.isthereason.com/?p=2011

*Tulisan pertama dari rangkaian tulisan menuju RUANGRUPA RECORD MUSIC FESTIVAL 3-4-5 Desember 2011