Walk The Folk #4: Penjelajahan dan Nostalgia 900 Meter di Atas Permukaan Laut

- November 25, 2017 -

Teks oleh Yuramia Oksilasari
Foto oleh Cosmas Dipta

Apabila sebelumnya di Walk The Folk #3 yang diadakan sekitar setahun lalu, Sandi Kalifadani – penggagas dari acara ini yang juga merupakan turunan dari proyek Folk Afternoon – merasa sudah cukup dan belum tau apakah acara ini akan diadakan lagi atau tidak; ternyata pada hari Selasa, 7 November lalu, Walk The Folk #4 kembali diadakan.

Pada dasarnya, konsep dari Walk The Folk #4 ini adalah a participatory secret gig, di mana para partisipan acara diundang secara diam-diam tanpa publikasi resmi, dengan tujuan tidak lain tidak bukan: menjaga intimasi antarpartisipan dengan porsi partisipasi yang merata, semua memberikan dan diberikan – persis seperti kado silang.

Namun untuk Walk The Folk #4 memang sedikit berbeda dari ketiga Walk The Folk sebelumnya karena kali ini kita mendapati bahwa Walk The Folk merupakan salah satu project yang sejak awal dipersiapkan untuk pameran “900mdpl”– sebuah proyek seni site-specific berkelanjutan di wilayah Kaliurang, yang dikuratori oleh Mira Asriningtyas. Untuk pertama kalinya dalam Walk the Folk, Sandi melakukan open call sejak dua minggu sebelumnya bagi para penggiat kreatif untuk menjadi partisipan acara ini. Tentunya open call tersebut disambut dengan antusias oleh beberapa calon partisipan, termasuk saya sebagai orang yang terakhir kali mengikuti acara ini sekitar dua tahun lalu dan merasakan kerinduan akan kejutan-kejutan kecil di setiap perjalanannya.

Selain itu, Walk The Folk yang biasanya mengokupasi ruang-ruang kosong di seputar Kaliurang – dengan pertimbangan untuk mengangkat obrolan tentang ruang publik-privat dan pemetaan alternatif atas ruang – sebagai ‘panggung pertunjukan’, kali ini menjadi terarah menyerupai art – walking tour yang mengikuti titik-titik penting tempat karya-karya proyek 900mdpl dipamerkan, tanpa mengurangi daya tarik dari tiap titik yang kami kunjungi karena setiap titik memiliki karya seni bernostalgianya sendiri.

Kami, dengan total partisipan enam belas orang, memulainya sekitar jam 10 pagi di Warung Joyo Kaliurang sebagai meeting point. Warung Joyo adalah sebuah toko barang antik yang sudah berdiri sejak tiga generasi keluarga pemiliknya. Di warung ini juga, selain sebagai starting point pameran 900mdpl, terdapat karya dari seniman Simon Kentgens yang berjudul “Warung Joyo” berupa karya video tentang benda-benda di toko itu yang menurut pemilik warung ini paling berkesan. Sehabis kami menonton video yang secara artistik dipajang di dalam lemari kaca bersamaan dengan benda-benda antik lainnya, di luar gerimis turun pudar-pudar lalu membesar. Di Warung Joyo ini, salah satu partisipan dipersilakan untuk tampil, yaitu Olski, sebuah cute pop-band yang mulai naik daun terutama di kota Yogyakarta. Perpaduan alunan cute berinstrumen glockenspiel dan gitar, serta vokal Dea yang lembut membawakan single ‘Tunggu’ dari album terbarunya, In The Wood, sungguh membuat saya bernostalgia dengan sepotong kenangan masa kecil saya yang memang tumbuh besar di rumah bergaya lawasan di sebuah kota bercuaca sejuk.

Titik selanjutnya yang kami datangi adalah sepetak ruang berisi ragam botani, seperti toko tanaman, karena ternyata memang. ‘Taman Tukar’ tadinya adalah gudang yang disulap oleh seniman Edita Atmaja menjadi ‘toko’ tanaman dengan sistem barter, sebagai bentuk artistik dari karyanya di pameran 900mdpl yang berjudul ”Botanica 2.1: A Begonia in Exchange for an Anthurium”. Ragam botani di ‘Taman Tukar’ tersebut merupakan ragam botani khas Kaliurang yang berhasil Edita telusuri selama ia melakukan residensi di Kaliurang. Sayang sekali, tidak ada satupun di antara kami yang membawa tanaman dan tidak bisa melakukan praktik barter, yang bagi saya sesungguhnya amat menarik, sehingga satu-satunya yang bisa kami lakukan di ‘Taman Tukar’ ini adalah menikmati penampilan satu partisipan lainnya, Gabriella Fernandez, seorang solois wanita bermodalkan suara yang dalam, petikan gitar yang udam, serta suara harmonika yang tajam. Gabriella membawakan lagu yang ia ciptakan sendiri berjudul ‘On A Sailboat Beneath The Sky’, yang sedikit banyak menceritakan tentang menikmati sebuah perjalanan menuju sebuah hasil alih-alih menikmati hasilnya itu sendiri. Dengan latar botanikal, tone Gabriella yang earthy memperkuat karakter ‘Taman Tukar’ di pagi itu.

Selanjutnya kami berjalan sedikit ke belakang Warung Joyo, dan berhenti di sepetak cor-coran beton di tengah kebun liar. Beberapa elemen signifikan menarik perhatian saya: kulit hewan entah apa yang digantung di pojok kebun, bendera merah putih, tumpukan rumput yang sengaja ditata, dan beberapa patung batu dengan kesan primitif. Elemen-elemen tersebut merupakan karya seniman Maryanto yang berjudul “Home(Age) of Leksigun” . Dito, salah satu seniman kolaborator pameran 900mdpl, menceritakan makna dibalik karya tersebut; Leksigun, tokoh Kaliurang yang masih membekas di ingatan warga Kaliurang hingga sekarang, adalah seseorang berkebutuhan khusus yang memiliki beragam kebiasaan eksentrik. Petak beton tempat kami berdiri adalah bekas rumah Leksigun, sebelum ia hilang tiga tahun lalu di Hutan Bingungan – sebuah hutan yang memang terkenal mistis di kaki Gunung Merapi. Adapun kebiasaan eksentrik Leksigun antara lain membawa berjalan-jalan (bukan mengendarai) motor tuanya yang ditempeli bendera merah putih, memahat batu dengan raut-raut binatang mistis semacam kambing dan macan, serta pilihan Leksigun untuk menggantung kambingnya yang mati di rumahnya hingga mengering alih-alih menguburnya.

Nostalgia mengenai Leksigun selalu membawa sensasi tersendiri bagi warga Kaliurang yang pernah mengenalnya, bahkan bagi saya – orang awam yang hanya mendengar kisahnya. Semacam perasaan merinding tapi penasaran, persis saat mendengar kisah-kisah horor.

Di sini, seorang partisipan bernama Faiz menawarkan diri untuk tampil. Ia merespon kisah Leksigun yang penuh pesona misteri dengan petikan gitarnya yang lirih, yang secara impromptu ia ciptakan di tempat. Saat Faiz mengawali petikan gitarnya, sayup-sayup suara pengelasan besi terdengar dari lahan sebelah yang sedang membangun rumah, dan saat Faiz hampir mengakhir petikan gitarnya, sayup-sayup pula terdengar suara adzan dzuhur. Sebuah kombinasi noise eksperimental untuk mengenang Leksigun yang mungkin sudah tenang.

Kami berjalan lagi menuju Hotel Vogels, tempat karya seniman Mella Jaarsma yang berjudul “The Right Shot” . Karya ini mengajak kami untuk memesan susu murni cokelat yang dijual di kafe milik Hotel Vogels, sebagai cara Mella Jaarsma membagikan nostalgianya akan kenangan susu murni cokelat di rumah neneknya di Belanda. Sambil menyesap hangatnya susu dan mencicipi jadah tempe, panganan khas Kaliurang yang dibawa oleh salah seorang partisipan, Olski kembali tampil dengan membawakan lagu-lagu cover dari ‘She and Him – Black Hole’ dan ‘White Shoes and The Couples Company – Roman Ketiga’. Salah seorang partisipan yang merupakan ilustrator, Dian Suci Rahmawati atau terkenal dengan nama ultramanminmun, membuatkan tato-tato-an untuk beberapa dari kami sebagai bentuk kado silangnya. Saya sendiri dibuatkan tato di tangan bergambar kursi dan secangkir susu.


Selepas penampilan Olski, seniman Anang Saptoto menampilkan tiga video instan yang sudah ia hasilkan sepanjang kami berjalan tadi. Satu yang paling saya sukai adalah video yang merekam wajah penuh senyum seorang ibu dan putrinya yang akan segera menikah, saat menikmati penampilan Faiz saat merespon karya tentang Leksigun.

Kontras dengan nada lembut Olski, akhirnya penggagas Walk The Folk ini, Sandi Kalifadani, memberikan kado silang berupa penampilannya berkolaborasi dengan Prihatmoko ‘Moki’ sebagai duo eksperimentalis bernama Gemati – sebuah projek yang mengangkat gagasan Jawa sebagai konsep berkarya mereka melalui musik dan visual. Mongso Sadha ‘Tirta Sah Saking Sasana’, adalah sepenggal komposisi yang mereka tampilkan, sebagai respon dari salah satu isu yang pernah marak di Yogyakarta mengenai lenyapnya air dari tempatnya (tirta sah saking sasana dalam Bahasa Jawa) .

Menjelajah ke bawah, kami berhenti di sebuah rumah lawas berwarna putih, tempat seluruh dokumentasi video Walk The Folk dan Folk Afternoon dari Sandi Kalifadani dipresentasikan. Di rumah ini juga, Olski dan Gabriella kembali tampil sambil membuat video musik serta merta, dengan menggunakan sebuah ruang kecil penuh remang yang merupakan bagian karya Dimaz Maulana berjudul “Mengawang Kaliurang” yang merupakan narasi tentang sejarah orang pertama yang tinggal di Kaliurang dan genealoginya yang ditampilkan dengan metode story telling. Kejutan tambahan, seorang musisi asal Wonosobo bernama Yuliono datang menyusul kami untuk ikut berpartisipasi. Yuliono, atau terkenal dengan nama Yuliono Singsot, memiliki kepribadian yang fun dan tertampil melalui lagu-lagunya yang ringan dan seringkali membuat kami tertawa. Di sini, Yuliono membawakan lagu tentang kelinci, sebuah lagu yang kalau tidak salah ia ciptakan di tempat karena melihat ada dua ekor kelinci di Hong. Sejak pertemuan pertama saya, saya hapal dengan Yuliono karena ia selalu membawakan lagu sambil bersiul (singsot dalam Bahasa Jawa) dan mengeja liriknya yang penuh guyonan.

Berjalan sedikit lagi ke Hotel Wijaya 3, jeda beberapa rumah dari Hong, terdapat karya seniman Dito Yuwono berjudul “Recollecting Memories of Tukang Foto Keliling (Itinerant Photographer)”, sebuah presentasi Dito atas risetnya mengenai praktik fotografi pariwisata di Kaliurang; serta karya seniman videografi Anggun Priambodo berjudul “Anjelir”, yang berisi pengalamannya beresidensi selama dua minggu di Kaliurang sambil mengimitasi kegiatan-kegiatan warga lokal pada umumnya: berjualan tongkat kayu, berjualan gambar umbul depan sekolah, hingga menjadi relawan untuk latihan sore para lansia di Kaliurang.

Di halaman Hotel Wijaya 3 yang beberapa kali dimondar-mandiri oleh beberapa ekor kalkun yang berisik, Faiz dan seorang personil Olski bernama Shohih, mengcover lagu ‘Float – Sementara’ yang diikuti dengan Yuliono mengcover ‘Frank Sinatra – Fly Me To The Moon’, tentunya dengan improvisasi masing-masing.

Titik terakhir yang kami jelajahi sebelum kembali ke meeting point Warung Joyo adalah Pos Pengamatan Gunung Merapi, tempat karya seniman Eva Olthof berjudul ‘If Merapi Tells Us To Go We Go’ dipamerkan. Sayangnya, saat kami ke sana, listrik sedang mati sehingga saya tidak bisa melihat karyanya dengan seksama. Akhirnya, beberapa dari kami naik ke atas pos pengamatan untuk bernyanyi dan bermusik bersama sambil menikmati pemandangan Kaliurang lebih tinggi lagi dari sekedar 900mdpl. Beberapa dari kami yang takut ketinggian ataupun malas naik, memilih untuk menunggu di bawah dan mengobrol.

Semua titik penting tempat karya seni pameran 900mdpl sudah kami jelajahi, sambil bernostalgia bersama mengumpulkan kepingan pengalaman masing-masing dari apa yang sudah diberikan oleh para seniman kolaborator serta partisipan Walk The Folk #4. Hari sudah sore saat kami kembali ke Warung Joyo. Namun sebelum berpisah untuk pulang ke tempat masing-masing, satu lagi kado silang dari Uniph Kahfi berupa workshop bookbinding untuk kami, juga sebagai buah tangan kami dari Walk The Folk #4.

900mdpl
https://instagram/900mdpl
http://www.900mdpl.com

Walk the Folk
Tentang Walk The Folk #1: http://majalahcobra.com/blog/walk-the-folk-piknik-musik-kisah-dan-jalan-kaki.html
Tentang Walk The Folk #2: http://majalahcobra.com/blog/walk-the-folk-2-perayaan-ajaib-tentang-hari-yang-biasa.html
Tentang Walk The Folk #3: http://majalahcobra.com/blog/walk-the-folk-3-menyusuri-tempat-cerita-kaliurang.html

Folk Afternoon
Tentang Folk Afternoon: http://majalahcobra.com/blog/folk-afternoon-on-the-rooftop.html

https://www.facebook.com/FolkAfternoon