Wawancara Bersama Sidi Saleh, Menjelang “Pai Kau” Tayang.

- January 23, 2018 -

Wawancara oleh Anggun Priambodo
Foto oleh Archipelago Pictures

Apakabar Sidi, bagaimana persiapan tayang perdana di jaringan bioskop awal bulan Februari nanti?
Kabar sehat dan lancar, persiapannya juga cukup lancar, Archipelago Pictures mendapatkan support dari Kaninga Pictures dan Feedme.id

Bisa kasih bocoran tentang Film “Pai Kau” kepada pembaca Cobra?
Pai kau adalah film dengan tema keluarga dan percintaan dengan bumbu suspense action (hahaha gado2).
Di produseri oleh Tekun Ji, Irina Chiu dan saya. Ini adalah film panjang pertama yang secara kreatif juga dibantu oleh beberapa nama yang juga menjadi film panjang pertama mereka, salah satunya Dennis Sutanto sebagai Production Designer, Kusen Dony Hermansyah sebagai Editor dan Mohamad Ariansah (Ale) yang membantu saya dalam penulisan, serta banyak lagi nama-nama yang ikut membantu saya mewujudkan film ini, maaf todak bisa menyebutkan satu persatu. Film Pai Kau dibungkus dengan menggunakan kebudayaan Tionghoa Indonesia sebagai visual teksturnya. Film ini durasinya hampir 90 menit.
Delapan puluh persen menggunakan pemain non-actor (arena sources aktor tionghoa belum banyak).

Bagaimana prosesnya film ini, kapan mulai ditulis dan diproduksi?
Proses filmnya sendiri cukup panjang, karena dari awalnya memang film ini saat mulai direncanakan belum ada support apapun. Cerita saya lempar ke Irina dan Tekun, pada akhir 2015, lalu coba kita buat trailernya, sampai akhirnya proses shooting baru dapat dilaksanakan pada november 2016. Akhirnya di Februari 2018 ini filmnya mendapat kesempatan untuk dinikmati secara luas.

Sebagai seorang DOP (Director Of Photography), lalu kali ini menyutradarai film panjang, sebagai seorang awam saya berpikir ini pasti punya karakter yang manis sekali pada sinematografinya… bagaimana menurutmu pribadi?
Hahahha, apa yah, sama ajah sih filmmaker itu menurut gw bukan hanya sutradara, tapi keseluruhan dari elemen-elemen pendukungnya, karena film sendiri adalah sebuah sistem.
Kalo background sebagai cinematographer yah sudah jadi nasib. Fotografi film ini dibawah arahan gw, dan dibantu oleh Amalia Trisnasari sebagai Kamera Operator dan PapaBieli Siregar sebagai Gaffer (Lighting Technician).
Sinematografi dari Pai Kau Manizzz pastinya hihihi.

Senang sekali akhirnya film ini bisa dinikmati oleh penonton luas, bagaimana perasaanmu?
Senang sekali, malah sampai terharu, usaha hampir 3 tahun, cukup banyak energi dan waktu yang terkuras (hahaha belum pembuat film produksi besar jadi semuanya mandiri dulu).


Sidi Saleh memperoleh gelar sarjana sinematografi dari Institut Kesenian Jakarta. Setelah lulus, ia terjun ke dalam industri film pada awal tahun 2000-an dan terus aktif dalam departemen sinematografi. Ia merasa hidupnya berkembang “mengikuti” kamera karena ayahnya dulu bekerja di bidang dokumentasi video pernikahan.
Sebagai sinematografer, ia terlibat dalam beberapa film karya Edwin, yaitu Kara, Anak Sebatang Pohon, Babi Buta yang Ingin Terbang (juga sebagai produser), dan Kebun Binatang (judul dalam versi internasional Postcards from the Zoo). Kara, Anak Sebatang Pohon memperoleh penghargaan Film Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 2005 dan menjadi film Indonesia pertama yang lolos seleksi Director’s Fortnight (bahasa Perancis: Quinzaine des Réalisateurs), Festival Film Cannes pada tahun 2005. Babi Buta yang Ingin Terbang memperoleh Penghargaan FIPRESCI pada Festival Film Internasional Rotterdam tahun 2009. Dan Kebun Binatang masuk dalam kompetisi utama Festival Film Berlinale tahun 2012.
Sidi memulai debut sutradaranya pada tahun 2011 dengan Full Moon, salah satu segmen dalam film Belkibolang. Film lainnya yang ia sutradarai, yaitu Fitri, masuk dalam Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand tahun 2014. Puncaknya, film Maryam, memenangkan penghargaan Orrizonti untuk film pendek terbaik pada Festival Film Venice ke-71 tahun 2014. Ia menjadi sineas Indonesia pertama yang memperoleh piala dari salah satu festival film bergengsi dan tertua di Eropa tersebut.