Wawancara dengan Amalia Sekarjati

- October 17, 2017 -

Wawancara dan foto oleh Anggun Priambodo

Sore kemarin Jakarta hujan deras, pelantikan gubernur juga sedang terjadi, 16/10. Saya dan Sekar menuju pemutaran Premiere Film Posesif di daerah Senayan. Kita naik taxi, dan sambil mengisi waktu sampai tujuan kita buat wawancara ini untuk Cobra. Sambil mengenal lebih dalam dengan Sekar yang saya sering jumpai di TIM kala itu.

Gimana sih dulu ceritanya bisa aktif di kineforum?

Awalnya Ayahku suka ngajak ke TIM. Nah waktu itu untuk nonton Jiffest, kan waktu itu mereka ada di TIM jugakan, ada pemutaran film non-twenty one kan waktu aku SMP sekitar tahun 2004-2005. Lalu waktu aku SMA ada info dari orang tua, ni ada Festival Sinema Prancis, pas akhirnya aku nyamperin ke studio satu itu, ternyata festivalnya udah selesai, tapi disana ada program regular pemutaran, waktu itu namanya belum kineforum, dia muterin film komedi klasik hitam putih, tapi bukan Charlie Chaplin. Waktu itu penontonnya hanya empat orang, dan waktu itukan sebagai anak SMA itu merasa eksklusif, tau tempat itu dan banyak orang yang nggak tau, dan pengalaman menontonnya juga menarik. Karena ada film selucu itu tapi yang nonton hanya ber-empat dan bukan di twenty one. Waktu itu mungkin namanya Art Cinema.
Kemudian mereka bikin perekrutan di Majalah Provoke, yang lagi heboh-hebohnya booming di SMA, aku daftar dan akhirnya Maret 2007 pertama kali aku jaga di kineforum waktu acaranya Bulan Film Nasional, Sejarah Adalah Sekarang yang pertama.

Gimana bagi waktunya?

Untungnya jadwalnya masih fleksibel ngikutin bisanya relawan, aku milih hari Sabtu atau Minggu. Jadi nggak menggangu pelajaran sekolah. Dan itu pengalaman yang super menarik bagiku yang masih SMA. Karena rata-rata yang lain anak IKJ, yang asik dan santai-santai. Jadi ada rasa nagih aja main ke kineforum, dan akhirnya kenal sama pengurus atas-atasnya juga, Mbak Lisabona, Mbak Penny Putri. Dan ada masa-masa dulu waktu SMA ada jam batas kalau telat nggak boleh masuk sekolahkan. Dan sekolahku di Bukit Duri, jadi tinggal naik kopaja sekali udah bisa ke DKJ, walau mereka belum buka udah nongkrong disitu, main dengan seragam putih abu-abu.
Lalu pas kelas tiga karena sudah mau ujian jadi mulai berkurang untuk jadi volunteer karena orang tua ngingetin buat belajar bla bla bla… . Dan keterusan sampai kuliah waktu itu di Serpong bersiasat hanya kalau Sabtu Minggu aja bisa jadi volunteer.

Kemudian tahun 2009, ditawarin sama yang megang Humasnya Kineforum, waktu itu Petrus, buat bantuin dia sebagai bagian publikasinya kineforum. Lalu tahun 2010 Petrus cabut, aku jadi mengisi bagiannya sebagai staff publikasi hingga tahun 2016.

Seperti apa sih dulu kineforum?

Tahun 2010 deh kalau nggak salah kineforum jadi pindah ke tempatnya sekarang. Dulu dia ada di studio satu twenty one. Sebelum kineforum, awalnya tergantung sama Komite Film DKJ, waktu itu Mas Gotot Prakosa ada disitu, terus bikin inisiatif itu. Aku pernah baca di pengantarnya Mbak Ratna Sarumpaet untuk kineforum, itu bargaining dengan twenty one, lo buka bioskop di komplek kesenian kasilah satu buat art cinema, ini semacam CSR gitu ya. Dan itu kan bukan setiap hari buka, hanya di minggu pertama atau kedua tiap bulannya. Mas Gotot yang mengkuratori awal-awalnya untuk memutar art film dan eksperimental. Lalu tahun 2006 komite berganti jadi Mas Echa (Farishad Latjuba), menunjuk Mbak Lisabona jadi manajer programnya.

Penonton paling ramai biasanya kalau pas Bulan Film Nasional, bisa sampai tiga ribu orang dalam sebulannya, sedangkan kalau bulan-bulan lainnya biasanya hanya ratusan aja.

Bokap memang suka ngajak anaknya pas weekend buat nonton film anak-anak, dan juga nonton teater koma itu sejak SD kelas lima. Dia memang menikmati nonton buat bahan ngajar dan aktifitasnya sehari-hari. Dia seperti ngerasa kualat kali ya lihat anaknya sekarang jadi sering ke TIM. Karena dia kenal dan dekat dengan ibuku juga di TIM, sampai mau putus waktu pacaran juga di TIM, ini seperti kutukan kali ya hehe…

Kegiatan menonton sama bokap gimana sekarang?

Terakhir nonton dengan bokap adalah bulan lalu Jakarta Philharmonic Orchestra di Gedung Kesenian Jakarta yang bikin acara regular tiap bulan sekarang. Dia dulu suka musik klasik dan ingin menanamkan buat anaknya biar bisa main piano, tapi aku suka ketiduran kalau nonton pertunjukannya. Oh iya dulu dia suka ngajak nonton resital piano di Erasmus, tapi aku suka ketiduran. Jadi sekarang suka gantian aku yang ngajak dia nonton Jakarta Philharmonic.