Wawancara Mouly Surya “Marlina the Murderer in Four Acts”

- May 17, 2017 -

Wawancara oleh Anggun Priambodo

Wawancara ini dibuat beberapa jam sebelum Mouly berangkat bersama Filmnya “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” ke Cannes Film Festival 2017. Selamat membaca.

Setelah WTDTAWTTAL (singkatan film kedua Mouly Surya) bagaimana kamu menemukan cerita “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”. Masih ingat perasaan seperti apa yang kamu temukan kala itu?

Waktu itu ketika Mas Garin menawarkan cerita Marlina kepada saya, waktu itu treatment mas Garin berjudul “Perempuan”, saya dengan Rama dan Fauzan sebenarnya sedang develop project lain, judulnya “Bad Poetry” dan memang sedang cukup stagnan. Jujur, waktu itu Rama yang langsung jatuh cinta dengan Marlina dan mendorong kita semua, termasuk saya, untuk mengerjakan Marlina dibandingkan Bad Poetry sebagai film ketiga. Dia bilang, “ini film ketiga kita.” Saya sendiri secara pribadi jujur malah belum terbayang. Seperti kata Mas Garin, “kalau kamu yang bikin cerita ini, saya nggak kebayang bakal jadi seperti apa.” Itu persis perasaan saya. Saya bukan saja belum pernah ke Sumba. Saya belum pernah shooting di luar kota, film-film saya sebelumnya cenderung claustrophobic. Rasanya dua puluh tahun lagi belum tentu ide cerita seperti ini bisa datang dari saya sendiri.

Lalu apa yang membuatmu yakin dengan “Marlina”, sehingga cerita yang sedang kamu develop sebelumnya jadi kamu “tahan”?

Kalau Bad Poetry ditahan itu memang karena juga belum bertemu jalannya. Saya dan Rama pernah ngobrol, kalau projek itu melalui proses ‘audisi’ nya masing-masing. Bad Poetry ini sudah berubah-ubah bentuk beberapa kali. Jadi tidak bisa dibilang juga kalau dia ‘ditahan’ karena Marlina tapi memang Marlina yang menemukan ‘jalan’ nya sendiri.

Kamu tiba-tiba berproduksi di luar Jakarta, Sumba. Tempat yang sebelumnya tidak terpikirkan olehmu. Bagaimana rasanya itu? Pengalaman yang sama sekali baru.

Ya pengalaman yang sangat baru buat saya dan yang jelas memberikan tantangan yang saya tidak temukan di film-film saya sebelumnya. Orang bilang ‘write what you know”, untuk Marlina saya belajar soal setting Sumba ini benar-benar dari nol. Tapi justru itu yang membuat pengalaman ini jadi menarik. Saya belajar hal yang banyak sekali. Ada juga tekanan untuk tetap setia dengan keotentikan kultur Sumba yang sebenarnya, masyarakat Sumba seperti apa. Tapi saya justru sangat rileks soal ini karena fokus saya adalah membuat film yang bisa berkomunikasi lebih luas lagi, ini adalah cerita fiksi dan bukan sebuah dokumenter. Dibungkus sebagai film western (koboi), rasanya tidak akan asing dan tetap menarik bagi orang yang tidak familiar dengan kultur ini sama sekali.

Apa yang kamu dapatkan dari latihan Yoga yang selama ini rutin kamu tekuni?

Hahaha, kesehatan yang pasti. Juga memberikan saya kesabaran dan stamina yang cukup kuat. Tadinya saya sama sekali nggak atletis, jalan menanjak sedikit saja sudah ngos-ngosan. Jujur ketika shooting kemarin tidak ada keluhan secara fisik sama sekali. Saya juga jadi lebih fokus dan santai dalam situasi-situasi genting.

Bisa kamu ceritakan tentang Producermu Rama Adi yang sudah bekerja denganmu sejak film pertama hingga saat ini?

Ya bisa dibilang saya dan Rama sama-sama belajar bersama sejak Fiksi., What They Don’t Talk About When They Talk About Love sampai kemudian membuat Marlina. Di Marlina, Rama pertama kalinya ikut terjun menulis skenario bersama saya. Fiksi. itu ide cerita saya dan waktu itu Rama yang decide untuk direwrite ke penulis lain yaitu Joko Anwar. Untuk What They Don’t Talk About When They Talk About Love saya menulis sendiri, baik dari ide cerita sampai menulis skenario. Disitu Rama benar-benar membebaskan saya. Jadi menarik sekali di Marlina ketika kami sekarang menulis bersama. Kita terus menchallenge ide masing-masing, dan setelah selesai di challenge lagi, oleh Isabelle, oleh orang lain yang membaca. Kadang orang kurang aware betapa pentingnya peran seorang produser dalam karya-karya yang mereka kesampingkan sebagai “filmnya festival” atau film “arthouse”. Imagenya di Indonesia produser itu fokus ke produksi, uang dan bisnis sedangkan menurut mereka film begini kurang ada nilai bisnisnya. Padahal, visi kreatif seorang produser itu amat sangat penting. Makanya saya percaya dan mengikuti statement Rama ketika membaca cerita Mas Garin lalu langsung berseru, “ini film ketiga kita, Mouly!”

Beberapa crew yang terlibat adalah orang-orang yang sudah sering kau ajak bekerja pada film sebelumnya, bisa kamu ceritakan tentang itu, begitu juga dengan yang baru bekerja pertama kali?

Yunus di kamera, Meutia di kostum, Deasy AD saya, Pak Didin di make up, dengan yang terus masih kontinuiti juga pastinya Zeke di musik bersama Yudhi. Kalau yang baru Bang Frans di art dan ada juga yang pernah kerja bareng sebelumnya. Bisa terbilang kombinasi sih.

Kamu juga pertama kali bekerja sama dengan Marsha Timothy, Egi Fedly, Yoga Pratama, Rita Ratu Mona? bisa kamu ceritakan itu?

Kalau Om Egi sebenernya sudah pernah kerja bareng. Om Egi itu jadi Pak Bambang, ajudan pribadinya Alisha di Fiksi. Dari awal memang sudah ingin Markus itu untuk Om Egi. Kalau Yoga sama Bu Rita, saya kerja pertama kali dan mereka sangat luar biasa. Yoga itu orang aslinya nggak banyak ngomong. Setiap pemeran utamakan saya ajak ngobrol satu-satu one on one gitu. Itu sama yang lain tuh sejam. Sama Yoga mungkin cuman 15 menit. Pas keluar Deasy nanya, “kok cepet banget?” Saya jawab “bingung bo gw mo ngomong apa lagi. Diem aja orangnya!” Tapi begitu mulai rehearsal saya tercengang dengan penampilan Yoga. Dan semua ucapan saya dalam 15 menit itu dikerjakan semua oleh dia. Dari mulai jadi “shadow” nya Markus (Om Egi), dialek, benar-benar nggak ada yg missed.
Kalau Marsha, saya dulu ketika bekerja sebagai asisten sutradara pernah bekerja sama di sebuah film dengan dia. Jadi bisa dibilang sudah kenal lebih dari 10 tahun. Pernah ke festival di Italia bareng, sudah lama sekali. Rama pernah foto dia iseng-iseng disana. Waktu lihat hasil fotonya Rama bilang sama saya, “look-nya menarik ya.” Ketika membicarakan Marlina jujur hanya nama Marsha yang tersebut sebagai calon.

Lalu bagaimana dengan bintang baru Dea Panendra, salah satu pemain utama di film ini?

Saya memanggil Dea untuk ikut audisi ketika iseng menonton di Youtube serial reality show casting Ini Kisah Tiga Dara. Ketika dia datang saya yang audisi sendiri secara langsung dan begitu keluar ruang audisi saya langsung decide kalau dia yang jadi Novi. Saya kurang suka mengatakan seseorang itu berbakat, karena kesannya kalau berbakat; performance yang bagus itu ya krn dia beruntung punya bakat, bukan karena kerja keras. Padahal dia sangat kerja keras. Pernah saya dikirimin foto dia lagi pakai aju hamil-hamilan di rumah sambil aktivitas sehari-hari. Sebelum datang dubbing dia sudah latihan sendiri semua dialognya. Sangat fokus, sangat passionate dan selain having a good voice, dia juga punya directability yg tinggi. Ketika rehearsal saya masih suka bilang kurang ini kurang itu. Tapi begitu shooting, dia sudah jadi Novi yang lebih dari ekspektasi saya.

Perjalanan terakhirmu yang berkesan apa Mouly bisa kamu ceritakan?

Waduh apa ya. Saya lebih suka di kamar hotel baca buku kalau traveling. Ga seru banget ya kedengarannya?

Kapan Marlina bisa ditonton di Indonesia setelah bulan ini akan perdana di Directors’ Fortnight, Festival Film Cannes?

Mudah-mudahan Oktober 2017

Kamu sudah sempat nonton Ghibli di bioskop, apa film favoritmu?

Belum sempat sih. Beberapa tahun yang lalu di bioskop pernah nonton “The Wind Rises” sama tahun lalu di Cannes nonton “Red Turtle”. Favorit saya “Castle in the Sky”.

*wawancara dengan Didin Syamsudin