White Shoes & The Couples Company at Voilah Festival, Singapore – Malaysia

- November 23, 2011 -

Oleh: Ricky Surya Virgana Foto: John Navid & Indra Ameng

Seminggu kemarin adalah minggu yang sangat padat bagi White Shoes and the Couples Company dikarenakan jadwal padat yang harus kami kerjakan baik di dalam kota, luar kota, sampai luar negeri. Berikut ini saya akan membagi pengalaman yang mungkin juga sangat berharga bagi kami sekeluarga, sebuah band kecil dengan harapan besar bagi diri kami sendiri. Selamat menikmati….

Selasa, 7 November 2011, segenap anggota, crew, dan official dari White Shoes and the Couples Company berkumpul di ruangrupa sejak pukul 02.00 pagi untuk mempersiapkan berbagai keperluan seperti alat-alat, merchedise, ticket, dan sebagainya guna kepergian kami dalam event Voilah Festival yang akan diadakan di dua kota, yaitu Singapura dan Kuala Lumpur (Malaysia). Sangat terlihat betapa letihnya muka dari teman-teman saya baik anggota band maupun crew dikarenakan sebelumnya kami telah bermain di kota Bandung lanjut menuju Bali dan sekarang Singapura, dan selalu menggunakan penerbangan paling awal.

Rombongan berangkat menuju Airport Sukarno-Hatta dan langsung menuju Singapura tepat pukul 06.00 pagi menggunakan pesawat Air Asia. Tiba di Changi International Airport pukul 08.30 pagi, Keadaan saat itu sangat berbeda. Jika sebelumnya setiap lawatan saya ke sana selalu cerah dan panas, kali ini Bandar Raffles terlihat sangat glomy, hujan telah mengguyur pagi itu– aura yang sangat cocok bila sambil mendengarkan Explosion in The Sky, Sigur Ros, dan Can.

Sesampainya di sana, kami dijemput oleh seorang driver utusan dari Figure 8 agency, promotor yang mengorganisir event Voilah Festival. Mulailah kami pergi menuju downtown Singapura menggunakan mini van yang sangat nyaman, sambil sedikit memejamkan mata mendengar ipod (pada saat itu telah terputar lagu ‘’Postcard from 1952’’ dari Explosion in The Sky). Tiba-tiba saya sedikit kaget: Singapura mengalami macet total.

Akhirnya kami tiba di venue acara, sebuah kampus seni yang sangat modern dengan arsitektur yang unik dan megah bernama La Salle College of Arts. Langsung menuju tempat kami bermain yang terletak pada main theatre, berada di basement 2 gedung tersebut. Sebuah theatre berkapasitas sekitar 400 orang, lengkap dengan fasilitas panggung hidrolik dan layar yang besar untuk keperluan visual. Di sana kami disambut oleh Muhammad, stage manager yang bertanggung jawab pada event tersebut. Muhammad sangat ramah dan koperatif. Sambil menunggu giliran soundcheck, kami bertemu dengan Donna, Marry, Cecil, Benedict– merekalah orang-orang di balik Figure 8.

Kami menuju kantin yang bernuansa sangat Perancis untuk segelas kopi panas dan sedikit roti, sekaligus untuk melihat jadwal apa saja yang harus dilakukan. Pada konser kali ini White Shoes and the Couples Company bermain bersama Saycet (Perancis) dan B-Quartet (Singapore).

Selesai sarapan, kami bergegas menuju venue. Saycet sedang melakukan soundcheck yang sangat rumit, walau hanya menggunakan sedikit instrumen musik seperti keyboard, gitar. 3 laptop, dan beberapa setting instalasi di atas panggung plus visual. Lalu tiba giliran kami untuk soundcheck. Tampak tidak ada kesulitan berarti, mungkin karena spesifikasi alat yang bagus serta crew stage sound yang berpengalaman.

Selesai soundcheck, kami menuju hotel. Diantar oleh Benedict, seorang wanita asal Senegal namun lahir dan besar di Paris dan sekarang tinggal dan bekerja di Tokyo. Kami menginap di South East Asia Hotel yang terletak di Bencolen Street, sebuah tempat yang sangat khas (kalau di Jakarta, saya merasa berada di daerah Pasar Baru, lengkap dengan pertokoan di kiri dan kanan jalan).

Agenda berikutnya adalah makan bersama, Kami menuju daerah SAM (Singapore Art Museum) untuk mencari kopi tiam yang sangat enak, Dan dikarenakan hasrat saya selain ber main di Singapura juga wajib untuk mendatangi beberapa toko vinyl, namun karena waktu yang terbatas akhirnya saya hanya sempat untuk pergi ke Roxy Music di daerah Peninsula Plaza.

Waktu menunjukan pukul lima sore. Sudah saatnya saya kembali ke venue karena ada jadwal interview dengan beberapa media lokal yang bertempat di gedung C La Salle College.

Selepas wawancara, kami bergegas menuju venue untuk melihat performance dari Saycet dan B Quartet yang sangat memukau. Lalu tiba giliran kami berada di atas panggung. Seperti biasa, massa Singapura yang dingin sejujurnya membuat saya sedikit hilang selera. Tapi apa boleh buat, kami sudah jauh-jauh datang. Lagu pertama kami sikat dengan “Senja Menggila”, dan lanjutlah lagu-lagu berikutnya. Nampak crowd Singapura yang kaku menjadi sedikit cair dan agak santai. Mereka ikut bernyanyi dan memberikan applaus kepada kami.

Sehabis pertunjukan, pihak Figure 8 meminta kami untuk meet and greet bersama dua band lainnya .

Akhirnya kami harus kembali ke hotel guna beristirahat dan membereskan beberapa peralatan, mengingat harus sudah berada di airport pada empat pagi. Karena perut sangat lapar, saya memutuskan untuk pergi ke luar hotel untuk mencari makan, bersama Ale dan Rio. Kami bertiga sempat berbincang tentang betapa dinginnya scene di Singapura dan betapa mereka (para pelaku scene musik) ini tidak peduli untuk beramah tamah. Sangat berbeda dengan suasana scene di Indonesia dimana semuanya berbaur dan saling berbagi. Begitu pun ketika kami bermain di New York, betapa musisi lokal asik berbincang dan bertukar pikiran bersama kami setelah selesai bermain di CMJ Music and Film Festival. Pelajaran yang bisa saya ambil adalah mereka sangat individual, mungkin karena negaranya sudah menyediakan semuanya dengan sebegitu rupa. Akhir kata saya hanya berkata kepada Rio dan Ale “Yah, namanya juga negara Sims.” Berada di Singapura selalu membuat saya berfikir bahwa saya sedang bermain video games Sims Theme Park.

Pukul setengah empat. Kami sudah bersiap menuju airport. Saya, Rio, dan Ale berada satu van bersama Saycet, terpisah dari rombongan White Shoes. Sejujurnya sejak awal pertemuan saya dengan band ini, saya justru tidak pernah berbicara dengan para personil band, tetapi cukup dekat dan berbincang-bincang dengan sound man mereka yang bernama Thibaud a.k.a Tibo yang sangat flamboyan dan ramah. Ternyata, kembali ke tahun 2008, Tibo pernah bermain bersama band-nya di CMJ Music and Film Festival di New York, namun kini band itu telah bubar.

Setelah tertidur dalam posisi duduk, kami mendarat di Malaysia. Kali ini kami akan diurus oleh Frinjan, sebuah komunitas yang katanya selalu mengangkat sesuatu yang “di kirikan” di negara itu. Dan kami mendapat LO mak cik Ili, seorang teman yang selalu support dengan semua band independen Indonesia.

Lanjutlah kami menuju down town Kuala Lumpur untuk makan sejenak, menyantap nasi lemak yang ternyata penjualnya adalah orang Indonesia yang berasal dari Madura.
Selesai makan, kami langsung menuju tempat peristirahatan yang bertempat di kantor Frinjan (berada di daerah yang kalau saya bayangkan di Jakarta adalah Menteng).

Setelah semua segar, beberapa dari kami menuju venue untuk soundcheck. Sebagian tetap berada di tempat peristirahatan, sampai kami menerima kabar untuk berangkat menuju venue.

Akhirnya, kami yang tersisa pun berangkat menuju venue. Sesampainya di sana, ternyata pihak dari sound system belum menyelesaikan set-nya, dan mereka terlihat sangat tidak koperatif , kurang kerjasama. Ini baru pertamakali dalam pengalaman saya melihat orang dari pihak sound system berani memaki-maki client-nya dan kasar berbicara terhadap band yang akan main. Well, kami dengan santai menanggapi hal ini, karena kami bermain secara tradisional, tapi tidak dengan Saycet yang mempunyai settting yang cukup rumit dengan visual dan instalasi. Belum lagi Saycet sudah mencantumkan di riders mereka agar pihak sound system menyediakan 10 D.I Box, dan ternyata pihak sound system hanya mempunyai 1 buah D.I Box … What ??? Akhirnya mereka meminjam 4 buah dari kami dan sisanya kawan baru kami yang bernama Arif, manager band Tender Fist yang mencarikan dengan meminjam beberapa D.I Box kepunyaan teman-temannya.

Tanpa mau ambil pusing dengan kelakuan dari pihak sound, kami tetap soundcheck meski sangat telat dari jadwal yang ditetapkan. Selesai soundchek pukul 6 sore, kami langsung kembali ke rumah peristirahatan.

Kembali ke venue. Khottal, band dari Malaka, telah bermain. Dan akan dilanjutkan oleh Saycet. Menurut kabar dari beberapa teman Frinjan, tiket telah habis terjual dan merchendise yang kami bawa dari Jakarta juga telah habis terjual (sampai poster dan sapu tangan yang tidak laku di Indonesia pun habis) sebelum pintu ruangan kami bermain di buka.

Kami melakukan beberapa sesi interview. Secara mengejutkan, ada beberapa crew dari Upin & Ipin datang kepada kami memberikan beberapa cinderamata sambil bercerita dan mengambil foto bersama.

Lalu mulailah saat yang ditunggu untuk bermain di rangkaian tour kami ini di kota dan negara terakhir, dan tentunya harus gas poll ini friend mainnya!!!

Sebelum kami menaiki stage, Indra Ameng sudah menyiapkan mixtape lagu-lagu Indonesia zaman dulu untuk diputar. Dan… bang !!!…. kami berada di atas stage! Bermain, bernyanyi, melompat, berdansa, berteriak, tersenyum, dan melupakan bahwa telah banyak konflik politik yang terjadi di antara kedua negara. Terbukti bahwa musik bisa menyatukan semua ras, negara, dan agama tanpa harus menjadi paham new world order yang diimpikan para kaum Massonik itu.

Akhir kata saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada Figure 8, Frinjan, Saycet, B Quartet, Khottal atas kesempatan mengundang dan bermain bersama.

Dan tentunya kepada teman-teman saya: Sari, Mela, Rio, Ale, John, Ameng, Jarot, Ruli yang telah teruji kesabarannya untuk bangun pagi, tidur duduk, mengangkat alat sampai-sampai kami lupa memegang dollar Singapore dan Malaysia ringgit karena padatnya jadwal … love u all my friends !!!